Malam Natal tahun 1991 menjadi awal dari beberapa hari paling genting dalam hidup Diana,
Princess of Wales. Keluarga kerajaan Inggris bersiap merayakan Natal di Sandringham House, sebuah
tradisi panjang yang biasanya berlangsung dengan protokol ketat serta suasana formal yang telah
diatur turun temurun. Namun kali ini, di balik kemeriahan persiapan, ada kegelisahan yang tidak bisa
disembunyikan.
Diana hadir bukan sebagai anggota keluarga yang damai, melainkan sebagai
seorang perempuan yang terluka, terperangkap dalam pernikahan yang retak akibat perselingkuhan
suaminya, Pangeran Charles, dengan Camilla Parker Bowles.
Sementara staf Sandringham
bekerja keras menyambut para bangsawan, Diana justru melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan. Ia
menolak naik mobil bersama petugas keamanan dan memilih menyetir sendirian menuju
Sandringham. Pilihan yang tampak sederhana ini perlahan berubah menjadi simbol perjuangannya
mencari kendali atas hidupnya.
Di tengah perjalanan, ia tersesat, hingga
bertemu Darren McGrady, koki kerajaan yang sudah lama mengenalnya dengan ramah. Bersama
Darren, Diana berhenti sejenak di dekat Park House, sebuah rumah kosong yang pernah menjadi
tempat tinggal masa kecilnya. Nostalgia itu membuatnya terhenti. Di kejauhan, ia melihat sosok orang-
orangan sawah dan berlari mendekatinya, seolah melihat sesuatu yang sangat pribadi.
Ketika ia menyadari bahwa orang-orangan itu memakai jaket lama milik ayahnya,
John Spencer, ia melepaskannya dari patung kayu itu dan membawanya kembali ke mobil. Sebuah
kenangan lama kembali hidup, dan semacam kerinduan menyelinap dalam hatinya.
Saat akhirnya tiba di Sandringham, sambutan hangat datang dari William dan Harry yang segera
memeluk ibunya. Namun di luar anak-anaknya, Diana tampak menjaga jarak dari seluruh keluarga
kerajaan lainnya. Ia bergerak canggung, seolah setiap tatapan adalah penilaian, setiap aturan adalah
tekanan.
Satu-satunya orang yang membuatnya merasa dianggap manusia
adalah Maggie, sang pelayan pribadi yang menjadi sosok teman di tengah dunia yang penuh batasan.
Maggie mencoba meyakinkan Diana untuk bertahan, untuk melawan dengan anggun, dan tetap
menjalankan kewajiban kerajaan meski hatinya terbakar oleh luka.
Namun
ketenangan itu tidak bertahan lama. Diana menemukan sebuah buku tentang Anne Boleyn di
kamarnya. Membacanya menjadi titik awal dari serangkaian mimpi, ilusi, dan ketakutan yang menyatu
dengan kenyataan. Anne Boleyn, mantan istri Raja Henry VIII yang dihukum mati karena tuduhan tak
berdasar, muncul dalam mimpi-mimpi Diana sebagai simbol istri kerajaan yang dikhianati dan
dipinggirkan.
Pada suatu makan malam formal, Diana mengalami halusinasi
intens ketika ia membayangkan mematahkan kalung mutiara pemberian Charles, menjatuhkan
mutiaranya ke dalam sup, lalu menelannya satu per satu. Imajinasi itu semakin mengaburkan batas
antara dunia nyata dan tekanan yang menghancurkan batinnya.
Keesokan
harinya Diana mencoba mengunjungi Park House lagi, tetapi dihentikan oleh para penjaga yang tidak
mengenalinya. Sementara itu, pada kebaktian Hari Natal di Gereja St Mary Magdalene, Diana kembali
menghadapi tatapan publik dan kilatan kamera yang tajam. Di antara kerumunan orang, ia melihat
Camilla, sosok yang menjadi bayangan gelap dalam rumah tangganya. Ia merasa seperti burung yang
kehilangan tempat aman untuk bernaung.
Percakapannya dengan Charles
semakin memperburuk keadaan. Ketika Diana menyampaikan kekhawatirannya mengenai
keselamatan William dan Harry yang dijadwalkan mengikuti perburuan burung pegar keesokan
harinya, Charles menjawab dengan dingin. Ia menegurnya agar lebih memahami batas antara
kehidupan pribadi dan peran publik sebagai anggota kerajaan. Tidak ada kehangatan dalam suara itu,
hanya jarak dan aturan.
Di belakang Diana, Charles menyebarkan isu bahwa
Maggie bersikap tidak pantas, bahkan menuduhnya menanam buku Anne Boleyn di kamar Diana.
Maggie dipindahkan ke London, membuat Diana kehilangan satu-satunya sekutu. Ketika Diana
bertanya pada McGrady, koki yang jujur itu menegaskan bahwa Maggie tidak pernah melakukan hal
tersebut.
Major Gregory, pengawas protokol kerajaan, mencoba menekan Diana
dengan retorika nasionalis, mengatakan bahwa tentara Inggris rela mati demi melindungi keluarga
kerajaan dan secara tidak langsung juga melindungi dirinya. Diana menanggapinya dengan marah dan
berkata bahwa ia tidak pernah meminta siapa pun mati demi dirinya. Ia menuduh Major Gregory
sebagai orang yang menaruh buku itu di kamarnya, tetapi ia menolak tuduhan tersebut.
Setelah menerima sepasang tang pemotong kawat dari McGrady, Diana
membayangkan melukai dirinya sendiri. Tekanan di dalam Sandringham terasa semakin mencekik.
Pada malam Natal itu, ia menghindari makan malam resmi dan justru kabur ke Park House. Dengan
pemotong kawat itu ia memaksa masuk ke rumah masa kecilnya, meski sudah lama terbengkalai.
Ketika ia memasuki ruangan demi ruangan, kenangan masa kecil yang manis
datang silih berganti. Ia membayangkan dirinya kecil berlari, tertawa, menari, dan merasakan
kebebasan yang sudah lama hilang. Di puncak keputusasaannya, ia berdiri di puncak tangga dan
mempertimbangkan mengakhiri hidupnya. Namun kehadiran Anne Boleyn dalam halusinasinya
menghentikannya sebelum ia jatuh.
Dengan tubuh gemetar dan napas berat,
Diana kembali ke Sandringham. Dalam amarah dan keputusasaan, ia merobek kalung mutiara yang
diberikan Charles, seolah ingin merobek semua belenggu yang menekan jiwanya. Apakah Diana akan
menemukan kekuatan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri?
Penulis
artikel: Abdilla Monica Permata B.