Apa Arti PHK: Pengertian, Jenis, dan Hak Karyawan yang Perlu Diketahui
apa arti phk
Kapanlagi.com - PHK atau Pemutusan Hubungan Kerja merupakan istilah yang sering menimbulkan kekhawatiran di kalangan pekerja. Memahami apa arti PHK sangat penting bagi setiap karyawan dan pengusaha untuk mengetahui hak dan kewajiban masing-masing pihak.
Dalam dunia kerja, PHK tidak dapat dilakukan secara sembarangan karena telah diatur dalam perundang-undangan. Setiap proses PHK harus mengikuti prosedur yang benar dan mempertimbangkan berbagai aspek hukum yang berlaku di Indonesia.
Menurut Undang-Undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003, PHK didefinisikan sebagai pengakhiran hubungan kerja karena suatu hal tertentu yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara pekerja atau buruh dan pengusaha. Pemahaman yang tepat tentang apa arti PHK akan membantu semua pihak dalam menghadapi situasi ini dengan lebih baik.
Advertisement
1. Pengertian dan Definisi PHK
PHK adalah singkatan dari Pemutusan Hubungan Kerja yang merujuk pada pengakhiran hubungan kerja antara karyawan dan perusahaan. Berdasarkan Pasal 1 Nomor 25 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, PHK didefinisikan sebagai pengakhiran hubungan kerja karena suatu hal tertentu yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara pekerja atau buruh dan pengusaha.
Konsep PHK tidak hanya mencakup pemecatan oleh perusahaan, tetapi juga berbagai situasi lain yang menyebabkan berakhirnya hubungan kerja. Hal ini bisa terjadi karena pengunduran diri karyawan, berakhirnya masa kontrak, atau kondisi-kondisi khusus lainnya yang diatur dalam perundang-undangan.
Dalam konteks hukum Indonesia, PHK tidak dapat dilakukan secara sepihak tanpa alasan yang jelas. Pasal 151 UU Ketenagakerjaan 13/2003 menegaskan bahwa jika hubungan kerja harus diakhiri, maka karyawan dan perusahaan harus melakukan musyawarah terlebih dahulu. Jika musyawarah tidak mencapai kesepakatan, maka pengadilan hubungan industrial dapat dilibatkan dalam proses penyelesaiannya.
Mengutip dari bpjsketenagakerjaan.go.id, PHK adalah pengakhiran hubungan kerja karena suatu hal tertentu yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara Pekerja/Buruh dan Pengusaha. Definisi ini menekankan bahwa PHK bukan hanya tentang kehilangan pekerjaan, tetapi juga tentang berakhirnya seluruh aspek hubungan kerja yang telah terjalin.
2. Jenis-Jenis PHK Berdasarkan Penyebabnya
Berdasarkan faktor penyebabnya, PHK dapat dikategorikan menjadi beberapa jenis yang berbeda. Pemahaman tentang jenis-jenis ini penting untuk mengetahui hak dan kewajiban yang timbul dari masing-masing situasi.
- PHK Karena Hukum
Jenis PHK ini terjadi secara otomatis berdasarkan ketentuan hukum tanpa memerlukan surat pemutusan hubungan kerja. Contohnya adalah ketika karyawan meninggal dunia, mencapai usia pensiun, atau berakhirnya kontrak kerja waktu tertentu (PKWT). Dalam situasi ini, hubungan kerja berakhir dengan sendirinya sesuai ketentuan yang berlaku. - PHK Secara Sepihak
PHK jenis ini terjadi atas inisiatif salah satu pihak, baik perusahaan maupun karyawan. Dari sisi perusahaan, PHK sepihak dapat dilakukan jika karyawan melakukan pelanggaran berat atau tidak memenuhi standar yang ditetapkan. Sementara dari sisi karyawan, pengunduran diri tanpa tekanan atau paksaan juga termasuk dalam kategori ini. - PHK Karena Kondisi Khusus
Kondisi khusus yang dapat menyebabkan PHK meliputi berbagai situasi seperti karyawan sakit berkepanjangan, efisiensi perusahaan, kebangkrutan perusahaan, atau kerugian yang dialami perusahaan secara terus-menerus. PHK jenis ini biasanya terjadi karena faktor eksternal yang tidak dapat dikendalikan oleh kedua belah pihak. - PHK Karena Kesalahan Berat
Ketika karyawan melakukan kesalahan yang dikategorikan sebagai pelanggaran berat, perusahaan dapat melakukan PHK. Contoh kesalahan berat meliputi penipuan, penggelapan dana perusahaan, penganiayaan terhadap rekan kerja, atau peretasan data rahasia perusahaan. PHK jenis ini memerlukan proses investigasi yang thorough sebelum keputusan diambil.
Melansir dari Undang-Undang Cipta Kerja yang telah disahkan pada Maret 2023, terdapat 15 alasan spesifik yang memungkinkan perusahaan melakukan PHK, termasuk penggabungan perusahaan, efisiensi karena kerugian, penutupan perusahaan, kepailitan, dan berbagai kondisi lainnya yang diatur secara detail dalam peraturan tersebut.
3. Aturan dan Alasan PHK yang Diperbolehkan dan Dilarang
Regulasi PHK di Indonesia sangat ketat untuk melindungi hak-hak pekerja. Undang-Undang Ketenagakerjaan mengatur secara detail alasan-alasan yang diperbolehkan dan dilarang untuk melakukan PHK, sehingga tidak ada pihak yang dirugikan dalam prosesnya.
Alasan PHK yang dilarang berdasarkan Pasal 153 UU Ketenagakerjaan 13/2003 mencakup berbagai kondisi yang dianggap tidak adil. Perusahaan tidak boleh mem-PHK karyawan yang sakit menurut keterangan dokter dalam waktu kurang dari 12 bulan secara berturut-turut, sedang memenuhi kewajiban negara, menjalankan ibadah sesuai agamanya, atau menikah. Perlindungan khusus juga diberikan kepada pekerja perempuan yang hamil, melahirkan, menyusui, atau mengalami keguguran.
Diskriminasi dalam bentuk apapun juga dilarang keras sebagai alasan PHK. Perbedaan ideologi, agama, suku, ras, warna kulit, golongan, jenis kelamin, kondisi fisik, status perkawinan, atau aliran politik tidak dapat dijadikan dasar untuk melakukan pemutusan hubungan kerja. Selain itu, karyawan yang mengalami cacat tetap atau sakit akibat kecelakaan kerja juga mendapat perlindungan khusus dari kemungkinan PHK.
Di sisi lain, terdapat alasan-alasan yang diperbolehkan untuk melakukan PHK. Perusahaan dapat melakukan PHK jika karyawan tidak lulus masa percobaan, kontrak kerja telah berakhir, melakukan kesalahan atau pelanggaran berat, atau terbukti melanggar perjanjian kerja. Kondisi perusahaan seperti penggabungan, peleburan, perubahan status, kerugian berkelanjutan, atau kebangkrutan juga dapat menjadi alasan yang sah untuk PHK.
Mengutip dari UU Cipta Kerja, karyawan yang mangkir selama 5 hari berturut-turut tanpa keterangan setelah dipanggil dua kali secara tertulis, atau sakit lebih dari 12 bulan, juga dapat dikenakan PHK. Namun, semua proses ini harus dilakukan sesuai dengan prosedur yang ditetapkan dan dengan memperhatikan hak-hak karyawan yang bersangkutan.
4. Hak-Hak Karyawan yang Terkena PHK
Karyawan yang mengalami PHK memiliki berbagai hak yang dijamin oleh undang-undang dan harus dipenuhi oleh perusahaan. Pemahaman tentang hak-hak ini sangat penting agar karyawan dapat memperoleh kompensasi yang sesuai dan tidak dirugikan dalam proses PHK.
Hak utama yang paling dikenal adalah uang pesangon, yang perhitungannya didasarkan pada masa kerja karyawan. Berdasarkan Pasal 156 UU Ketenagakerjaan, karyawan dengan masa kerja kurang dari 1 tahun berhak mendapat 1 bulan upah, masa kerja 1-2 tahun mendapat 2 bulan upah, dan seterusnya hingga maksimal 9 bulan upah untuk masa kerja 8 tahun atau lebih. Perhitungan ini telah dimodifikasi dalam UU Cipta Kerja yang mengubah ketentuan dari "paling sedikit" menjadi "paling banyak".
Selain uang pesangon, karyawan juga berhak atas uang penghargaan masa kerja yang diberikan untuk masa kerja minimal 3 tahun. Perhitungannya dimulai dari 2 bulan upah untuk masa kerja 3-6 tahun, hingga maksimal 10 bulan upah untuk masa kerja 24 tahun atau lebih. Uang penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi perusahaan atas kontribusi karyawan selama bekerja.
Uang penggantian hak kerja juga merupakan komponen penting yang mencakup cuti tahunan yang belum diambil, biaya transportasi pulang ke tempat asal, dan penggantian perumahan serta pengobatan sebesar 15% dari total uang pesangon dan penghargaan masa kerja. Hak-hak lain yang tercantum dalam perjanjian kerja atau peraturan perusahaan juga harus dipenuhi.
Menurut bpjsketenagakerjaan.go.id, karyawan yang terdaftar dalam program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) juga berhak mendapatkan manfaat tambahan berupa uang tunai, konseling, informasi pasar kerja, dan pelatihan untuk membantu transisi ke pekerjaan baru. Program ini memberikan perlindungan sosial yang lebih komprehensif bagi pekerja yang mengalami PHK.
5. Prosedur dan Proses PHK yang Benar
Proses PHK yang benar harus mengikuti prosedur yang ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan untuk memastikan perlindungan hak semua pihak. Pemahaman tentang prosedur ini penting bagi perusahaan untuk menghindari masalah hukum dan bagi karyawan untuk memastikan hak-haknya terpenuhi.
- Tahap Persiapan dan Evaluasi
Perusahaan harus melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebutuhan bisnis dan kondisi keuangan sebelum memutuskan PHK. Penilaian kinerja karyawan dan analisis dampak bisnis menjadi dasar penting dalam pengambilan keputusan ini. - Pemberitahuan dan Musyawarah
Sesuai dengan UU Ketenagakerjaan, perusahaan wajib memberikan pemberitahuan awal dan melakukan musyawarah dengan karyawan atau serikat pekerja. Proses ini bertujuan untuk mencari solusi terbaik dan menghindari PHK jika memungkinkan. - Mediasi dan Penyelesaian Sengketa
Jika musyawarah tidak mencapai kesepakatan, proses dapat dilanjutkan ke mediasi atau pengadilan hubungan industrial. Tahap ini memastikan bahwa keputusan PHK diambil secara adil dan sesuai dengan ketentuan hukum. - Pelaksanaan PHK dan Penyelesaian Administratif
Setelah keputusan PHK ditetapkan, perusahaan harus menyelesaikan semua kewajiban administratif termasuk pembayaran pesangon, uang penghargaan masa kerja, dan uang penggantian hak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Mengutip dari Pasal 152 UU Ketenagakerjaan, permohonan PHK harus dilakukan secara tertulis dengan menyertakan alasan dan dasar yang jelas kepada lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial. Lembaga ini akan memberikan penetapan terhadap permohonan tersebut setelah melalui proses yang sesuai dengan ketentuan hukum.
6. Dampak dan Konsekuensi PHK
PHK memiliki dampak yang signifikan baik bagi karyawan maupun perusahaan, sehingga pemahaman tentang konsekuensinya penting untuk semua pihak yang terlibat. Dampak ini tidak hanya bersifat finansial tetapi juga psikologis dan sosial.
Bagi karyawan, PHK dapat menyebabkan ketidakstabilan finansial dan emosional yang memerlukan adaptasi dan strategi pemulihan. Kehilangan pekerjaan secara tiba-tiba dapat mengganggu rencana keuangan jangka panjang dan mempengaruhi kesejahteraan keluarga. Namun, dengan pemahaman yang baik tentang hak-hak yang dimiliki, karyawan dapat memanfaatkan kompensasi yang diterima untuk periode transisi mencari pekerjaan baru.
Dari sisi perusahaan, PHK dapat memberikan dampak positif dalam hal efisiensi biaya operasional, tetapi juga dapat menimbulkan dampak negatif terhadap moral karyawan yang tersisa dan reputasi perusahaan. Kehilangan tenaga kerja berpengalaman juga dapat mempengaruhi produktivitas dan kinerja perusahaan dalam jangka panjang.
Dampak sosial PHK juga perlu dipertimbangkan, terutama jika terjadi PHK massal yang dapat mempengaruhi kondisi ekonomi daerah. Pemerintah melalui berbagai program seperti JKP berusaha meminimalkan dampak negatif ini dengan memberikan perlindungan sosial dan bantuan transisi bagi pekerja yang terkena PHK.
Melansir dari program JKP BPJS Ketenagakerjaan, dampak PHK dapat dimitigasi melalui program pelatihan, bimbingan karir, dan dukungan finansial yang membantu pekerja untuk segera mendapatkan pekerjaan baru atau bahkan memulai usaha sendiri dengan memanfaatkan kompensasi yang diterima.
7. FAQ (Frequently Asked Questions)
Apa yang dimaksud dengan PHK?
PHK adalah singkatan dari Pemutusan Hubungan Kerja, yaitu pengakhiran hubungan kerja karena suatu hal tertentu yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antara pekerja atau buruh dan pengusaha. Definisi ini tercantum dalam Pasal 1 Nomor 25 UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003.
Apakah perusahaan bisa mem-PHK karyawan secara sepihak?
Tidak, perusahaan tidak dapat melakukan PHK secara sepihak tanpa alasan yang jelas dan prosedur yang benar. Berdasarkan Pasal 151 UU Ketenagakerjaan, harus ada musyawarah terlebih dahulu, dan jika tidak tercapai kesepakatan, maka pengadilan hubungan industrial dapat dilibatkan dalam prosesnya.
Apa saja hak karyawan yang di-PHK?
Karyawan yang di-PHK berhak mendapatkan uang pesangon, uang penghargaan masa kerja (untuk masa kerja minimal 3 tahun), dan uang penggantian hak yang mencakup cuti yang belum diambil, biaya transportasi, serta kompensasi lainnya sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian kerja atau peraturan perusahaan.
Bagaimana cara menghitung uang pesangon PHK?
Uang pesangon dihitung berdasarkan masa kerja: kurang dari 1 tahun mendapat 1 bulan upah, 1-2 tahun mendapat 2 bulan upah, dan seterusnya hingga maksimal 9 bulan upah untuk masa kerja 8 tahun atau lebih. Perhitungan ini mengacu pada Pasal 156 UU Ketenagakerjaan yang telah dimodifikasi dalam UU Cipta Kerja.
Alasan apa saja yang dilarang untuk melakukan PHK?
Perusahaan dilarang mem-PHK karyawan karena sakit (kurang dari 12 bulan), memenuhi kewajiban negara, menjalankan ibadah, menikah, hamil/melahirkan/menyusui, perbedaan ideologi/agama/suku/ras, kegiatan serikat pekerja, atau cacat akibat kecelakaan kerja. Alasan-alasan ini tercantum dalam Pasal 153 UU Ketenagakerjaan.
Apa itu program JKP dan bagaimana hubungannya dengan PHK?
JKP (Jaminan Kehilangan Pekerjaan) adalah program BPJS Ketenagakerjaan yang memberikan perlindungan berupa uang tunai, konseling, informasi pasar kerja, dan pelatihan bagi pekerja yang mengalami PHK. Program ini membantu pekerja mempertahankan derajat kehidupan yang layak saat kehilangan pekerjaan.
Berapa lama proses PHK yang benar menurut hukum?
Proses PHK yang benar memerlukan waktu yang bervariasi tergantung kompleksitas kasus. Dimulai dari musyawarah antara perusahaan dan karyawan, jika tidak tercapai kesepakatan dapat dilanjutkan ke mediasi atau pengadilan hubungan industrial. Untuk PHK massal, perusahaan juga harus memberikan pemberitahuan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam peraturan ketenagakerjaan.
(kpl/fds)
Advertisement