Apa Arti Problematik: Memahami Makna dan Konteks Penggunaannya
apa arti problematik
Kapanlagi.com - Istilah "problematik" semakin sering terdengar dalam percakapan sehari-hari, media sosial, hingga diskusi formal. Kata ini digunakan untuk menggambarkan berbagai situasi yang dianggap rumit atau menimbulkan kesulitan. Apa arti problematik sebenarnya dan bagaimana penggunaannya dalam konteks yang tepat?
Secara sederhana, problematik merujuk pada sesuatu yang masih menjadi persoalan atau belum dapat diselesaikan dengan mudah. Istilah ini tidak hanya berlaku untuk masalah individual, tetapi juga situasi sosial, kebijakan, atau sistem yang menimbulkan ketidaknyamanan. Pemahaman yang tepat tentang apa arti problematik akan membantu kita menggunakan kata ini secara lebih bijak.
Mengutip dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), problematik memiliki dua kategori makna yang berbeda namun saling berkaitan dalam penggunaannya di masyarakat.
Advertisement
1. Pengertian Problematik Menurut KBBI
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata problematik memiliki dua kategori dan makna yang berbeda. Sebagai adjektiva atau kata sifat, problematik berarti "masih menimbulkan masalah" atau "masih berupa masalah". Sementara sebagai nomina atau kata benda, problematik mengandung arti "hal yang masih merupakan masalah" atau "permasalahan".
Dalam konteks penggunaan sehari-hari, problematik sering dimaknai sebagai kategori nomina, seperti halnya kata dialektik, etik, metodik, praktik, dan taktik. Dengan demikian, ketika seseorang menyebut "problematik penggunaan bahasa Indonesia", hal tersebut mengandung maksud penggunaan bahasa Indonesia yang masih merupakan permasalahan atau bentukan-bentukan bahasa Indonesia yang dalam konteks penggunaan oleh masyarakat bersifat problematis.
Mengutip dari buku Jaminan Kesehatan Nasional yang Berkeadilan Menuju Kesejahteraan Sosial, problematik dapat muncul dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari problematik filosofis, sosiologis, hingga yuridis. Setiap jenis problematik memiliki karakteristik dan dampak yang berbeda terhadap masyarakat.
Penting untuk membedakan antara kata "problematik" dengan "problematika" yang sering dianggap sinonim. Bentuk kata "problematika" sebenarnya tidak merujuk pada sumber yang relevan, karena dalam bahasa Inggris tidak ada kata "problematics", yang ada adalah "problematic" yang diserap menjadi "problematik" dalam bahasa Indonesia.
2. Jenis-Jenis Problematik dalam Kehidupan
Problematik dapat muncul dalam berbagai bentuk dan konteks kehidupan. Pemahaman tentang jenis-jenis problematik ini akan membantu kita mengidentifikasi dan mengatasi masalah dengan lebih efektif.
- Problematik Filosofis
Problematik filosofis berkaitan dengan landasan pemikiran atau pandangan hidup yang mendasari suatu peraturan atau kebijakan. Jenis problematik ini muncul ketika terdapat ketidaksesuaian antara nilai-nilai yang dianut dengan implementasi dalam kehidupan nyata. - Problematik Sosiologis
Problematik sosiologis terjadi ketika peraturan atau sistem yang dibuat tidak sesuai dengan kebutuhan dan kesadaran masyarakat. Hal ini dapat menyebabkan penolakan atau ketidakpatuhan masyarakat terhadap aturan yang berlaku. - Problematik Yuridis
Problematik yuridis berkaitan dengan aspek hukum dan peraturan yang menimbulkan kekaburan norma, kerancuan penafsiran, atau tumpang tindih kewenangan antar institusi. - Problematik Perilaku
Problematik perilaku merujuk pada pola sikap atau tindakan seseorang yang menimbulkan kesulitan dalam hubungan sosial, seperti sering menyalahkan orang lain, sulit menerima kritik, atau cenderung manipulatif. - Problematik Situasional
Problematik situasional adalah kondisi atau keadaan yang menimbulkan ketidakpastian, kebingungan, atau tekanan emosional yang berkepanjangan.
Mengutip dari Cleveland Clinic, sikap problematik pada diri seseorang bisa saja berakar dari gangguan mental, terutama gangguan kepribadian yang menghasilkan pola pikir, perasaan, dan perilaku yang menimbulkan konflik dalam hubungan sosial.
3. Ciri-Ciri Situasi atau Orang yang Problematik
Mengenali ciri-ciri problematik sangat penting untuk dapat mengantisipasi dan mengatasi masalah sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar. Berikut adalah karakteristik yang sering ditemukan pada situasi atau individu yang bersifat problematik.
- Sulit Mempertahankan Hubungan yang Harmonis
Orang atau situasi problematik sering kali menimbulkan kesulitan dalam menjalin hubungan baik dengan orang lain. Hal ini disebabkan oleh sikap yang defensif, terlalu menuntut, atau mudah terlibat dalam perselisihan. - Kecenderungan Menyalahkan Pihak Lain
Ketika berhadapan dengan masalah, individu problematik cenderung enggan mengakui kesalahannya dan lebih sering menyalahkan orang lain atas masalah yang terjadi. - Kurangnya Kemampuan Refleksi Diri
Perasaan tidak bersalah membuat individu problematik sering tidak menyadari dampak negatif dari perilaku mereka terhadap orang lain dan lingkungan sekitarnya. - Memperbesar Masalah Kecil
Individu yang bermasalah sering kali sengaja membesar-besarkan masalah agar terlihat penting atau untuk mendapatkan perhatian, yang dapat merugikan produktivitas lingkungan kerja atau keharmonisan keluarga. - Emosi Tidak Stabil dan Reaktif Berlebihan
Perubahan suasana hati yang cepat dan drastis serta respons emosional yang berlebihan menjadi ciri khas individu problematik yang dapat menciptakan ketegangan di lingkungan sekitar. - Perilaku Manipulatif dan Posesif
Dalam hubungan, individu problematik dapat menunjukkan sifat manipulatif dengan membuat pasangan merasa bersalah, membatasi lingkar pertemanan, atau menunjukkan pola cinta-benci yang tidak sehat.
Mengutip dari Hellosehat, orang yang dikenal sebagai sumber masalah biasanya dijauhi oleh orang terdekatnya, baik di rumah, sekolah, atau lingkungan pekerjaan karena dampak negatif yang ditimbulkan.
4. Faktor Penyebab Berkembangnya Problematik
Memahami faktor-faktor yang menyebabkan berkembangnya problematik dapat membantu kita dalam mencegah dan mengatasi masalah sebelum menjadi lebih kompleks. Beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap munculnya problematik antara lain:
Pertama, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat sering kali menciptakan kesenjangan antara kemampuan adaptasi masyarakat dengan perubahan yang terjadi. Hal ini dapat menimbulkan kebingungan dan resistensi terhadap hal-hal baru yang sebenarnya bermanfaat.
Kedua, sikap pengguna atau masyarakat yang belum ideal dalam menghadapi perubahan atau masalah. Kurangnya minat untuk mencari informasi yang akurat atau berkonsultasi dengan ahli ketika menghadapi keraguan dapat memperburuk situasi yang sebenarnya bisa diatasi dengan mudah.
Ketiga, popularitas kata atau konstruksi yang menyimpang cenderung lebih tinggi daripada yang benar. Dalam era media sosial, informasi yang salah atau menyesatkan sering kali menyebar lebih cepat daripada informasi yang akurat, sehingga menciptakan problematik baru dalam masyarakat.
Keempat, pengaruh media massa baik elektronik maupun cetak memberikan kontribusi yang sangat signifikan terhadap berkembangnya problematik. Media yang tidak bertanggung jawab dapat menciptakan istilah-istilah baru yang menyesatkan atau memperkuat stereotip negatif dalam masyarakat.
5. Dampak Problematik dalam Berbagai Aspek Kehidupan
Problematik tidak hanya berdampak pada individu yang terlibat langsung, tetapi juga dapat mempengaruhi lingkungan sosial yang lebih luas. Dalam konteks hubungan personal, problematik dapat menyebabkan komunikasi yang buruk, kurangnya kepercayaan, dan dominasi serta kontrol yang tidak sehat.
Dalam lingkungan kerja, individu atau situasi problematik dapat menurunkan produktivitas, menciptakan atmosfer yang tidak kondusif, dan menghambat kerjasama tim. Hal ini pada akhirnya dapat merugikan organisasi secara keseluruhan dan mempengaruhi pencapaian tujuan bersama.
Dari segi kesehatan mental, menghadapi situasi problematik secara terus-menerus dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan bahkan depresi. Individu yang terjebak dalam lingkungan problematik sering kali mengalami penurunan kualitas hidup dan kesejahteraan psikologis.
Dalam konteks sosial yang lebih luas, problematik dapat memperburuk konflik antarkelompok, memperdalam kesenjangan sosial, dan menghambat pembangunan masyarakat yang harmonis dan inklusif.
6. Strategi Menghadapi Situasi Problematik
Menghadapi situasi atau individu problematik memerlukan strategi yang tepat dan bijaksana. Pendekatan yang salah dapat memperburuk masalah dan menciptakan konflik yang lebih besar.
Langkah pertama adalah menjaga ketenangan emosi dan menghindari reaksi yang impulsif. Sikap tenang membantu mencegah konflik semakin memanas dan memungkinkan komunikasi yang lebih efektif. Ketika berhadapan dengan individu problematik, penting untuk tidak terpancing emosi dan tetap fokus pada solusi.
Menetapkan batasan yang jelas dan tegas merupakan langkah penting untuk melindungi diri sendiri dari dampak negatif perilaku problematik. Batasan ini harus dikomunikasikan dengan sopan namun tegas, dan konsekuensi yang jelas harus diterapkan jika batasan tersebut dilanggar.
Fokus pada solusi daripada masalah dapat membantu mengurangi ketegangan dan mempercepat penyelesaian konflik. Mengajak pihak yang terlibat untuk melihat ke depan dan mencari jalan keluar bersama lebih produktif daripada terjebak dalam saling menyalahkan.
Dalam kasus di mana problematik berakar dari masalah kesehatan mental, mendorong individu untuk mencari bantuan profesional adalah langkah yang tepat. Dukungan dari psikolog atau psikiater dapat membantu mengatasi akar masalah dan mengembangkan strategi coping yang lebih sehat.
7. FAQ (Frequently Asked Questions)
Apa perbedaan antara problematik dan problematika?
Problematik adalah bentuk yang benar dalam bahasa Indonesia, sementara problematika tidak memiliki dasar yang kuat karena tidak ada kata "problematics" dalam bahasa Inggris. Problematik dapat berfungsi sebagai adjektiva (masih menimbulkan masalah) atau nomina (permasalahan).
Apakah semua orang yang sulit dihadapi bisa disebut problematik?
Tidak semua orang yang sulit dihadapi bisa disebut problematik. Istilah ini lebih tepat digunakan untuk menggambarkan pola perilaku yang konsisten menimbulkan masalah, konflik, atau kesulitan dalam hubungan sosial, bukan hanya perbedaan pendapat atau karakter yang berbeda.
Bagaimana cara mengetahui apakah saya sendiri bersifat problematik?
Tanda-tanda bahwa Anda mungkin bersifat problematik antara lain: sering terlibat konflik dengan orang lain, sulit menerima kritik, jarang introspeksi diri, dan orang-orang di sekitar mulai menjauh. Refleksi diri yang jujur dan feedback dari orang terdekat dapat membantu mengenali hal ini.
Apakah sifat problematik bisa diubah?
Ya, sifat problematik bisa diubah dengan kesadaran diri, kemauan untuk berubah, dan usaha yang konsisten. Dalam beberapa kasus, bantuan profesional seperti konseling atau terapi dapat sangat membantu dalam proses perubahan perilaku.
Kapan sebaiknya mencari bantuan profesional untuk masalah problematik?
Bantuan profesional sebaiknya dicari ketika perilaku problematik mulai mengganggu fungsi sehari-hari, merusak hubungan penting, atau menyebabkan distress yang signifikan. Jika ada indikasi gangguan mental yang mendasari, konsultasi dengan psikolog atau psikiater sangat direkomendasikan.
Bagaimana cara menghadapi atasan atau rekan kerja yang problematik?
Dalam lingkungan kerja, penting untuk tetap profesional, mendokumentasikan interaksi yang bermasalah, menetapkan batasan yang jelas, dan jika perlu melaporkan ke HR atau manajemen. Fokus pada penyelesaian tugas dan hindari terlibat dalam drama personal.
Apakah media sosial berkontribusi terhadap berkembangnya perilaku problematik?
Ya, media sosial dapat berkontribusi terhadap berkembangnya perilaku problematik melalui penyebaran informasi yang salah, normalisasi perilaku negatif, dan menciptakan platform untuk drama dan konflik. Penggunaan media sosial yang bijak dan selektif sangat penting untuk menghindari dampak negatif ini.
(kpl/fed)
Advertisement