Menginap di Hotel Tua Saat Meliput, Rasanya Seperti Menjadi Aktor Film Horor
©shutterstock
Kapanlagi.com - Sekitar bulan Agustus saya mewakili KapanLagi untuk bertugas meliput gala premiere dua film Indonesia berjudul Perburuan dan Bumi Manusia yang dihelat di kota Surabaya. Dari Bandara Soekarno-Hatta, saya dan rombongan wartawan dari berbagai media baik itu online, cetak, televisi maupun radio, berangkat pagi hari menuju Kota Pahlawan.
Sesampainya di Surabaya, kami sempat berkunjung ke kantor pemerintahan untuk bertemu dengan Gubernur Jawa Timur, Ibu Khofifah Indar Parawansa. Dalam pertemuan tersebut, Khofifah mengungkap dukungannya kepada industri perfilman Indonesia. Salah satunya dalam bentuk melancarkan terselenggaranya premiere dua film adaptasi novel sastrawan Pramoedya Ananta Toer tersebut.
Usai berkunjung, rombongan pemain, kru dan awak media langsung menuju hotel tempat menginap. Kami sempat menikmati paduan suara sebelum akhirnya diberi kesempatan menuju kamar masing-masing untuk mengistirahatkan badan. Karena jadwal gala premiere baru besok hari dilaksanakan.
Advertisement
1. Mulai Rasakan Hal Aneh
Saya mendapat kamar di lokasi paling belakang, karena baru pertama kali datang ke tempat tersebut, merasa harus berjalan cukup jauh sebelum akhirnya menemukan tempatnya dibantu petugas hotel yang ramah.
Mungkin karena sedikit lelah, tapi di sisi lain juga bersemangat akan mengeksplor kota Surabaya, sore itu saya belum merasakan hal-hal yang aneh tatkala masuk dalam kamar yang cukup luas. Terlebih setelah tahu bahwa hotel tempat saya menginap dikenal sebagai tempat angker oleh warga sekitar.
Ketika langit menggelap, barulah atmosfer kamar terasa berbeda. Entah tersugesti dengan cerita-cerita mistis itu atau bagaimana, hawa di kamar mendadak lembab dan dingin yang anomali. Namun saya dan teman sekamar berusaha positive thinking karena yang terpikir hanya beristirahat sebelum digempur pekerjaan dengan jadwal padat.
2. Pojokan Hotel
Jadwal makan malam pun tiba. Semua rombongan diminta untuk turun di mana penyelenggara telah menyediakan makan malam model buffet di area taman, beralas rumput hijau, beratapkan gelap malam.
Usai makan, teman-teman wartawan online mengajak untuk berkuliner. Namun karena sedang dalam mode mager, saya pun memilih bersantai di dalam kamar saja. Saat berjalan menuju kamar bulu kuduk saya meremang ketika di lorong berpencahayaan temaram itu harus melewati pojokan sebelum naik menuju lantai dua.
Pojokan itu sebenarnya akses buntu menuju samping hotel, hanya saja ditutup dengan pintu berteralis tanpa lampu sama sekali sehingga nampak gelap dan menyeramkan.
Karena bulu kuduk berdiri ketika lewat, saya langsung berlari hanya demi segera sampai tujuan yang entah mengapa terasa lama. Saya juga panik sampai sulit membuka pintu kamar mengunakan kartu. Rasanya seperti menjadi aktor di film horor saja.
3. Tanah Kosong
Begitu berhasil masuk ke kamar, saya langsung menutup tirai jendela yang jika melihat ke bawah (saya memberanikan diri melihat keesokan harinya) nampak bagian samping hotel tadi dari atas, yang ternyata merupakan tanah kosong dan dibatasi tembok tinggi.
Perasaan langsung tenang tapi tidak karena di malam itu saya entah harus beberapa kali naik turun dan takut sendiri ketika melewati jalur yang sama.
Kebesokannya, demi mengurangi ketakutan tidak jelas, saya tak melewati rute sebelumnya dan berganti jalan lain. Memang menjadi lebih jauh karena harus berputar, tapi tidak harus dibuat merasakan merinding; leher dingin seperti ditiup oleh sesuatu yang entah apa.
Baru kali itu saya yang tak pernah takut menonton horor, dibuat kalang kabut hanya karena melewati salah satu pojokan di hotel itu. Pengalaman yang tak akan terlupakan
(kpl/abs/DIM)
Advertisement
-
Teen - Fashion Kasual Celana Jeans Ala Anak Skena: Pilihan Straight sampai Baggy yang Wajib Dicoba
