Apa Arti Bunyi Tokek di Malam Hari: Mitos dan Fakta Ilmiah

Apa Arti Bunyi Tokek di Malam Hari: Mitos dan Fakta Ilmiah
apa arti bunyi tokek di malam hari

Kapanlagi.com - Bunyi tokek di malam hari sering kali menarik perhatian dan menimbulkan rasa penasaran bagi banyak orang. Suara khas "tok-ek" yang terdengar berulang-ulang ini telah melahirkan berbagai interpretasi dalam budaya masyarakat Indonesia.

Dalam kepercayaan tradisional, apa arti bunyi tokek di malam hari sering dikaitkan dengan pertanda atau pesan dari alam gaib. Masyarakat Jawa dan Bali memiliki sistem perhitungan khusus untuk mengartikan makna dari jumlah bunyi yang dikeluarkan tokek.

Mengutip dari buku Kepercayaan dan Mitos di Masyarakat karya Suryani (2018), suara tokek malam hari sering dikaitkan dengan berbagai makna dalam budaya masyarakat, meskipun kenyataannya hal tersebut lebih berkaitan dengan perilaku alami tokek itu sendiri. Namun dari sisi ilmiah, bunyi tokek sebenarnya merupakan bentuk komunikasi alami hewan nokturnal ini.

1. Pengertian dan Makna Bunyi Tokek dalam Kepercayaan Tradisional

Pengertian dan Makna Bunyi Tokek dalam Kepercayaan Tradisional (c) Ilustrasi AI

Tokek merupakan reptil bersuara keras yang memiliki nama Latin Gecko gecko. Karena mengeluarkan suara unik yang berbunyi 'tokke, tokke', hewan ini pun lebih dikenal dengan nama tokek atau tokay gecko dalam bahasa Inggris. Suara tokek yang nyaring dan keras lebih sering terdengar di malam hari, meski siang atau sore hari pun suara itu bisa saja muncul.

Dalam tradisi Jawa, masyarakat menghubungkan arti bunyi tokek di malam hari dengan pertanda baik dan buruk. Jumlah suara ganjil merupakan pertanda baik sedangkan jumlah yang genap adalah pertanda buruk. Sistem perhitungan ini dimulai dari angka 1 sampai 15, dan jika bunyinya terdengar lebih dari 15, maka hitungan ke-16 kembali ke hitungan 1 dan begitu seterusnya.

Masyarakat Bali juga memiliki mitos serupa terkait arti suara tokek. Bedanya, setiap jumlah spesifik memiliki makna yang berbeda. Dari 1-15, berikut adalah arti suara tokek menurut kepercayaan masyarakat Bali: satu kali (Sida Karya) berarti sukses dalam pekerjaan, dua kali (Nemu Asih) artinya saling mengasihi, tiga kali (Suwung Kepanggih) berarti menemui kesepian, empat kali (Menemuredut) artinya saling mendapatkan kesusahan di dalam keluarga, dan seterusnya hingga lima belas kali (Ala Dahat) yang berarti buruk sekali.

Melansir dari Ensiklopedi Budaya Islam Nusantara yang disusun Tim Kementerian Agama, dalam sejarahnya orang-orang dahulu menggunakan alat komunikasi tradisional seperti kentongan untuk memanggil warga masyarakat agar berkumpul dalam suatu tempat, menunjukkan bahwa bunyi-bunyian memang memiliki peran penting dalam sistem komunikasi tradisional masyarakat Indonesia.

2. Klasifikasi Arti Bunyi Tokek Berdasarkan Jumlah

Klasifikasi Arti Bunyi Tokek Berdasarkan Jumlah (c) Ilustrasi AI

Sistem perhitungan bunyi tokek dalam kepercayaan tradisional memiliki klasifikasi yang cukup detail. Setiap jumlah bunyi memiliki makna spesifik yang dipercaya dapat memberikan petunjuk tentang kejadian yang akan datang.

  1. Bunyi 1 kali (Sida Karya): Pertanda sukses dalam pekerjaan atau usaha yang sedang dijalankan
  2. Bunyi 2 kali (Nemu Asih): Menandakan akan datangnya kasih sayang atau cinta dalam hidup
  3. Bunyi 3 kali (Suwung Kepanggih): Peringatan akan menghadapi kesepian atau tantangan hidup
  4. Bunyi 4 kali (Menemuredut): Pertanda akan mengalami kesusahan bersama keluarga
  5. Bunyi 5 kali (Sangging Suka): Menandakan akan mendapatkan kebahagiaan
  6. Bunyi 6 kali (Sengkala Gering): Peringatan akan datangnya malapetaka
  7. Bunyi 7 kali (Nemu Ayu): Pertanda akan mendapatkan kebaikan
  8. Bunyi 8 kali (Ala Gering): Menandakan akan mengalami keburukan
  9. Bunyi 9 kali (Sengsara Bara): Peringatan akan sengsara yang berkepanjangan
  10. Bunyi 10 kali (Wirayaguna): Pertanda akan menjadi berguna bagi orang lain

Sistem perhitungan ini berlanjut hingga 15 kali bunyi, dengan masing-masing angka memiliki interpretasi khusus. Penting untuk dicatat bahwa akurasi perhitungan sangat ditekankan dalam kepercayaan ini, karena salah hitung berarti salah pemaknaan.

3. Mitos Populer Seputar Bunyi Tokek Malam Hari

Mitos Populer Seputar Bunyi Tokek Malam Hari (c) Ilustrasi AI

Berbagai mitos berkembang di masyarakat terkait apa arti bunyi tokek di malam hari. Salah satu kepercayaan yang paling populer adalah bahwa bunyi tokek merupakan pertanda kehadiran makhluk halus. Menurut mitos yang beredar, jika suara tokek terdengar dekat maka makhluk halus sudah menjauh dari rumah. Kebalikannya, saat suara tokek terdengar jauh, maka seseorang harus waspada sebab makhluk halus justru berada dekat dengannya.

Mitos lain yang berkembang adalah bunyi tokek sebagai penolak bala. Masyarakat meyakini bahwa suara tokek yang terdengar begitu kencang adalah pertanda hewan tersebut tengah menangkal ilmu hitam atau gangguan dari orang yang berniat jahat. Semakin kencang suaranya, semakin kuat pula perlindungan yang diberikan.

Ada juga kepercayaan yang menyebutkan suara tokek sebagai pembawa keberuntungan berupa rezeki bagi pemilik rumah. Dalam mitos ini, semakin kencang suara tokek, semakin deras pula rezeki yang akan mengalir. Bagi yang percaya dengan mitos ini, kehadiran tokek di rumah justru disambut dengan senang hati.

Beberapa daerah juga mengaitkan bunyi tokek dengan prediksi cuaca. Bunyi tokek yang terus-menerus dipercaya sebagai pertanda akan turunnya hujan. Kepercayaan ini mungkin memiliki dasar observasi empiris, mengingat tokek memang sensitif terhadap perubahan kelembaban udara.

4. Penjelasan Ilmiah Tentang Bunyi Tokek

Penjelasan Ilmiah Tentang Bunyi Tokek (c) Ilustrasi AI

Dari sudut pandang sains, apa arti bunyi tokek di malam hari memiliki penjelasan yang jauh berbeda dengan kepercayaan tradisional. Tokek mengeluarkan berbagai jenis suara, termasuk suara 'tokek,' cicitan, decakan dan lainnya sebagai bentuk komunikasi dan menandai wilayahnya.

Fungsi utama bunyi tokek adalah untuk komunikasi antar individu. Hewan ini membuat kegaduhan dengan suaranya sebagai bentuk komunikasi untuk menarik pasangan, terutama pada masa kawin. Tokek jantan mengeluarkan suara khasnya untuk memancing betina, sementara tokek betina juga mengeluarkan suaranya untuk menarik perhatian jantan sekaligus memperingatkan betina lain.

Bunyi tokek juga berfungsi sebagai penanda wilayah kekuasaan tokek jantan. Saat tokek bersuara keras dan kencang, hewan ini memberitahu tokek jantan lain tentang keberadaannya sekaligus memperingatkan agar mereka menjauhi wilayahnya untuk menghindari perkelahian. Jika ada tokek lain yang menyusup masuk ke wilayah kekuasaannya, mereka akan mengeluarkan suara gaduh untuk mengusir lawannya.

Selain itu, tokek juga menggunakan suara untuk berbagai keperluan lain seperti membangun ikatan (bonding), merasa terancam, dan menarik mangsa. Perasaan terancam bisa memicu tokek mengeluarkan suara mendesis atau menggaok sebagai bentuk pertahanan. Bahkan beberapa spesies tokek rumah diketahui memiliki panggilan berbeda untuk jenis serangga berbeda yang menjadi incaran mereka.

5. Perbedaan Perspektif Budaya dan Sains

Perbedaan Perspektif Budaya dan Sains (c) Ilustrasi AI

Perbedaan mendasar antara perspektif budaya dan sains dalam memahami bunyi tokek terletak pada pendekatan interpretasinya. Kepercayaan tradisional cenderung mengaitkan bunyi tokek dengan hal-hal supernatural atau pertanda dari alam gaib, sementara sains menjelaskannya sebagai perilaku alami hewan nokturnal.

Dalam konteks budaya, bunyi tokek dianggap memiliki makna simbolis yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia. Sistem perhitungan yang rumit dikembangkan untuk menginterpretasikan setiap variasi bunyi. Kepercayaan ini telah mengakar kuat dalam masyarakat dan menjadi bagian dari warisan budaya yang diwariskan turun-temurun.

Sementara itu, pendekatan ilmiah fokus pada aspek biologis dan etologis tokek. Bunyi tokek dipahami sebagai bagian dari sistem komunikasi alami yang memiliki fungsi spesifik dalam kelangsungan hidup spesies. Tidak ada kaitan antara bunyi tokek dengan kejadian supernatural atau pertanda mistis.

Meskipun berbeda, kedua perspektif ini dapat hidup berdampingan. Pemahaman ilmiah tidak harus menghilangkan nilai budaya yang terkandung dalam kepercayaan tradisional. Keduanya dapat saling melengkapi dalam memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang fenomena bunyi tokek di malam hari.

6. Tokek Sebagai Bagian Ekosistem Rumah

Kehadiran tokek di lingkungan rumah sebenarnya memberikan manfaat ekologis yang penting. Sebagai predator alami, tokek membantu mengendalikan populasi serangga dan hama kecil yang dapat mengganggu kenyamanan penghuni rumah. Diet tokek yang terdiri dari nyamuk, lalat, kecoa, dan serangga lainnya menjadikan mereka sebagai pengendali hama biologis yang efektif.

Aktivitas nokturnal tokek juga sejalan dengan pola aktivitas sebagian besar serangga yang menjadi mangsanya. Ketika malam tiba dan serangga mulai aktif, tokek pun mulai berburu. Bunyi yang mereka keluarkan tidak hanya untuk komunikasi, tetapi juga dapat berfungsi sebagai cara untuk menarik perhatian mangsa tertentu.

Dari perspektif ekologi rumah, keberadaan tokek menandakan lingkungan yang masih sehat dan seimbang. Rumah yang memiliki tokek biasanya memiliki populasi serangga yang terkendali secara alami. Hal ini mengurangi kebutuhan penggunaan pestisida kimia yang dapat berbahaya bagi kesehatan penghuni rumah.

Pemahaman tentang peran ekologis tokek ini penting untuk mengubah persepsi negatif yang mungkin muncul akibat kepercayaan mistis. Alih-alih dianggap sebagai pembawa pertanda buruk, tokek seharusnya diapresiasi sebagai bagian penting dari ekosistem rumah yang memberikan manfaat nyata bagi manusia.

7. FAQ (Frequently Asked Questions)

FAQ (Frequently Asked Questions) (c) Ilustrasi AI

1. Apakah bunyi tokek di malam hari selalu memiliki arti khusus?

Menurut kepercayaan tradisional, bunyi tokek memiliki arti khusus berdasarkan jumlahnya. Namun secara ilmiah, bunyi tokek adalah bentuk komunikasi alami untuk menarik pasangan, menandai wilayah, atau merespons lingkungan sekitar.

2. Mengapa tokek lebih sering berbunyi di malam hari?

Tokek adalah hewan nokturnal yang aktif di malam hari. Mereka berbunyi lebih sering pada malam hari karena saat itulah waktu aktivitas utama mereka, termasuk mencari makan, mencari pasangan, dan berkomunikasi dengan sesama tokek.

3. Bagaimana cara menghitung bunyi tokek yang benar menurut kepercayaan tradisional?

Dalam kepercayaan tradisional, bunyi tokek dihitung dari 1 hingga 15. Jika bunyi melebihi 15 kali, perhitungan kembali dimulai dari 1. Penting untuk mendengarkan dengan fokus dan tidak terputus untuk mendapatkan hitungan yang akurat.

4. Apakah kehadiran tokek di rumah berbahaya?

Tokek tidak berbahaya bagi manusia dan justru memberikan manfaat sebagai pengendali hama alami. Mereka memakan serangga seperti nyamuk, lalat, dan kecoa yang dapat mengganggu kenyamanan penghuni rumah.

5. Bisakah bunyi tokek memprediksi cuaca?

Beberapa kepercayaan mengaitkan bunyi tokek dengan prediksi cuaca, terutama hujan. Secara ilmiah, tokek memang sensitif terhadap perubahan kelembaban udara, sehingga aktivitas mereka mungkin berubah menjelang perubahan cuaca.

6. Apakah semua jenis tokek mengeluarkan bunyi yang sama?

Tidak semua jenis tokek mengeluarkan bunyi yang sama. Tokek rumah besar (Gecko gecko) yang menghasilkan suara "tok-ek" adalah yang paling dikenal. Spesies tokek lain mungkin memiliki variasi suara yang berbeda.

7. Haruskah kita percaya pada mitos bunyi tokek?

Kepercayaan terhadap mitos bunyi tokek adalah pilihan personal. Yang penting adalah memahami bahwa secara ilmiah, bunyi tokek adalah perilaku alami hewan. Mitos dapat dihargai sebagai warisan budaya tanpa harus mengabaikan penjelasan ilmiah yang rasional.

(kpl/fds)

Rekomendasi
Trending