Apa Arti Skena: Memahami Istilah Gaul yang Viral di Media Sosial
apa arti skena
Kapanlagi.com - Istilah "skena" telah menjadi salah satu kata yang paling banyak dicari di mesin pencari Google sepanjang tahun 2023. Kata ini kerap muncul di berbagai platform media sosial, terutama TikTok, dan menjadi topik perbincangan hangat di kalangan anak muda.
Popularitas kata skena tidak lepas dari penggunaannya yang luas dalam konteks musik, gaya hidup, dan komunitas tertentu. Banyak orang penasaran dengan apa arti skena sebenarnya dan bagaimana istilah ini berkembang menjadi fenomena viral.
Menariknya, kata skena tidak akan ditemukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) karena merupakan bahasa gaul yang bukan kata baku. Namun, penggunaannya telah meluas dan memiliki makna yang beragam tergantung konteks penggunaannya.
Advertisement
1. Pengertian dan Definisi Skena
Dalam bahasa gaul Indonesia, skena merupakan singkatan dari tiga kata yang memiliki makna mendalam. Kata pertama adalah "Sua" yang berarti berjumpa, bertemu, dan berkenalan. Kata kedua "cengKErama" yang artinya berbicara untuk menyenangkan hati, bergurau, bercanda, dan perjalanan yang dilakukan untuk bersenang-senang. Kata ketiga "kelaNA" yang berarti merencanakan perjalanan tanpa tujuan yang pasti atau mengembara.
Berdasarkan ketiga kata tersebut, apa arti skena dapat disimpulkan sebagai sekelompok orang yang mempunyai ketertarikan yang sama, senang bercengkrama, bergaul, dan bertukar pikiran. Perkumpulan ini umumnya identik dengan komunitas musik atau seni tertentu yang memiliki karakteristik unik.
Dalam konteks yang lebih luas, skena juga dapat diartikan sebagai suatu lingkungan atau komunitas tempat terjadinya interaksi antara individu-individu yang memiliki minat serupa. Istilah ini sering dikaitkan dengan dunia musik underground, seni alternatif, atau subkultur tertentu yang tidak mengikuti arus mainstream.
Melansir dari berbagai sumber, kata skena juga diyakini merupakan adaptasi dari kata bahasa Inggris "scene" yang telah digunakan sejak tahun 1940-an untuk menggambarkan komunitas seni yang tidak biasa atau anti-mainstream.
2. Asal-Usul dan Sejarah Istilah Skena
Kata "scene" dalam bahasa Inggris pertama kali muncul pada tahun 1940-an dan digunakan untuk menggambarkan komunitas seni yang memiliki karakteristik tidak umum atau berbeda dari mainstream. Istilah ini kemudian berkembang dan diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia menjadi "skena" dengan makna yang serupa namun disesuaikan dengan konteks budaya lokal.
Dalam perkembangannya, istilah skena mulai populer di Indonesia melalui media sosial, khususnya platform seperti TikTok dan Instagram. Penggunaan kata ini semakin meluas ketika banyak content creator dan influencer mulai menggunakan istilah skena untuk menggambarkan gaya hidup, selera musik, atau komunitas tertentu.
Fenomena skena di Indonesia juga tidak terlepas dari pengaruh subkultur global yang berkembang sejak awal tahun 2000-an. Subkultur skena internasional yang muncul dari Amerika Serikat memiliki karakteristik seperti fashion yang unik, musik alternatif, dan gaya hidup yang berbeda dari mainstream.
Perkembangan teknologi dan media sosial turut mempercepat penyebaran istilah skena di Indonesia. Platform seperti MySpace di era 2000-an dan kemudian TikTok di era modern menjadi medium utama bagi komunitas skena untuk mengekspresikan identitas dan berinteraksi dengan sesama anggota komunitas.
3. Karakteristik dan Ciri-Ciri Anak Skena
- Gaya Berpakaian Khas - Anak skena umumnya menggunakan kaos band atau kaos dengan print kata-kata bijak, celana kargo atau baggy, dan sepatu boot atau sneakers kekinian. Mereka juga sering menggunakan aksesoris seperti kacamata, piercing, dan berbagai stiker pada barang-barang pribadi.
- Selera Musik Underground - Mereka cenderung menyukai genre musik yang tidak mainstream seperti indie rock, metalcore, post-hardcore, atau musik elektronik alternatif. Band-band seperti Fourtwnty, Danilla, .Feast, dan Barasuara sering dikaitkan dengan komunitas skena Indonesia.
- Penggunaan Teknologi - Anak skena sering terlihat membawa MacBook yang ditempeli banyak stiker, menggunakan AirPods, dan aktif di media sosial untuk berbagi konten tentang musik dan gaya hidup mereka.
- Gaya Hidup Anti-Mainstream - Mereka cenderung menghindari hal-hal yang terlalu populer atau mainstream, lebih memilih sesuatu yang unik, alternatif, atau memiliki nilai artistik yang tinggi.
- Komunitas dan Networking - Anak skena biasanya tergabung dalam komunitas atau circle tertentu yang memiliki minat serupa, sering berkumpul di tempat-tempat seperti kafe indie, venue musik kecil, atau acara seni alternatif.
Karakteristik ini tidak bersifat mutlak dan dapat bervariasi tergantung pada individu dan komunitas masing-masing. Yang terpenting adalah semangat untuk mengekspresikan diri secara autentik dan menghargai keberagaman dalam berkesenian.
4. Musik dan Budaya Skena
Musik merupakan elemen central dalam budaya skena. Genre musik yang sering dikaitkan dengan komunitas skena sangat beragam, mulai dari indie rock, post-punk, shoegaze, hingga berbagai subgenre metal alternatif. Di Indonesia, band-band seperti Efek Rumah Kaca, White Shoes & The Couples Company, dan Sore sering dianggap sebagai representasi musik skena lokal.
Budaya skena juga mencakup cara pandang terhadap seni dan kreativitas. Anggota komunitas skena umumnya menghargai originalitas, eksperimentasi, dan ekspresi artistik yang autentik. Mereka cenderung skeptis terhadap produk budaya yang terlalu komersial atau mengikuti formula yang sudah ada.
Venue dan tempat berkumpul juga menjadi bagian penting dari budaya skena. Kafe-kafe indie, toko rekaman vinyl, galeri seni alternatif, dan venue musik kecil menjadi tempat favorit komunitas skena untuk bersosialisasi dan mengapresiasi karya seni.
Dalam konteks digital, platform seperti Bandcamp, SoundCloud, dan Spotify playlist indie menjadi medium penting bagi komunitas skena untuk menemukan dan berbagi musik baru. Media sosial juga digunakan untuk membangun jaringan dan berbagi konten tentang musik dan seni.
5. Fenomena Polisi Skena dan Kontroversinya
Salah satu fenomena yang muncul bersamaan dengan popularitas istilah skena adalah munculnya "polisi skena". Istilah ini merujuk pada individu-individu yang sering mengkritisi atau mengomentari selera musik orang lain, terutama mereka yang dianggap terlalu mainstream atau tidak memenuhi standar "skena" tertentu.
Polisi skena sering kali menunjukkan sikap elitis dengan menganggap diri mereka sebagai pihak yang paling mengerti musik. Mereka kerap memberikan komentar negatif terhadap musik populer dan menganggap selera musik mainstream sebagai pilihan yang "biasa" atau "kurang keren".
Fenomena ini menuai kontroversi karena dianggap menciptakan hierarki dalam apresiasi musik dan dapat membuat orang lain merasa tidak nyaman untuk mengekspresikan selera musik mereka. Musisi Sir Dandy bahkan membuat lagu berjudul "Polisi Skena" pada tahun 2020 untuk menyindir fenomena ini.
Kritik terhadap polisi skena menekankan pentingnya toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman selera musik. Setiap orang memiliki hak untuk menikmati musik apapun tanpa harus mendapat judgment dari orang lain, terlepas dari seberapa mainstream atau underground musik tersebut.
6. FAQ (Frequently Asked Questions)
Apa arti skena dalam bahasa gaul?
Skena adalah singkatan dari sua (berjumpa), cengkerama (bercanda/bergurau), dan kelana (mengembara). Secara keseluruhan, skena merujuk pada sekelompok orang yang memiliki ketertarikan sama, suka bergaul, dan bertukar pikiran, terutama dalam konteks musik dan seni.
Apakah kata skena ada dalam KBBI?
Tidak, kata skena tidak terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) karena merupakan bahasa gaul yang bukan kata baku. Kata ini diadaptasi dari bahasa Inggris "scene" dan berkembang menjadi istilah populer di media sosial.
Apa ciri-ciri anak skena?
Ciri-ciri anak skena meliputi gaya berpakaian khas (kaos band, celana baggy, sepatu boot), selera musik underground, penggunaan aksesoris seperti kacamata dan piercing, serta kecenderungan untuk menghindari hal-hal yang terlalu mainstream.
Apa itu polisi skena?
Polisi skena adalah istilah untuk orang-orang yang sering mengkritisi atau mengomentari selera musik orang lain, terutama yang dianggap terlalu mainstream. Mereka sering menunjukkan sikap elitis dan menganggap diri paling mengerti musik.
Apakah skena memiliki konotasi negatif?
Secara istilah, skena tidak memiliki konotasi negatif karena merujuk pada komunitas dengan minat yang sama. Namun, di media sosial, istilah ini kadang dikonotasikan negatif karena dikaitkan dengan sikap elitis atau kritik berlebihan terhadap selera musik mainstream.
Bagaimana skena berkembang di Indonesia?
Skena berkembang di Indonesia melalui media sosial, terutama TikTok dan Instagram. Istilah ini menjadi viral ketika banyak content creator menggunakannya untuk menggambarkan gaya hidup, selera musik, atau komunitas tertentu yang anti-mainstream.
Apa perbedaan skena dengan mainstream?
Skena umumnya merujuk pada komunitas atau budaya yang tidak mengikuti arus utama (mainstream). Sementara mainstream adalah hal-hal yang populer dan diterima secara luas oleh masyarakat umum. Skena cenderung lebih alternatif, eksperimental, dan memiliki karakteristik unik.
(kpl/fds)
Advertisement