Ebiet G Ade Bernyanyi di Arena Muktamar II PBB
Kapanlagi.com - Penyanyi bertutur Ebiet G Ade menyemarakkan pembukaan muktamar II Partai Bulan Bintang (PBB) di Surabaya, Kamis (28/4), untuk menghibur 3.909 peserta dan simpatisan yang hadir.
Ebiet mengiringi pembukaan muktamar yang dilakukan Ketua Umum DPP PBB Yusril Ihza Mahendra itu dengan melantunkan empat lagu, yakni Pasrah, Berita Kepada Kawan, Titip Rindu Buat Ayah dan Untuk Kita Renungkan.
Penyanyi legendaris yang mengaku diundang panitia itu tampak membuat ribuan peserta muktamar terhanyut dengan petikan gitar yang cukup dihafal peserta, bahkan tiga lagu terakhir terlihat dinyanyikan peserta.
"Saya orang yang agak bego soal partai, tapi saya diundang panitia, karena rupanya banyak peserta yang hadir di sini akrab dengan lagu-lagu saya," kata Ebiet.
Advertisement
Oleh karena itu, ia berdoa agar PBB menjadi partai yang besar. "Kalau PBB besar `kan saya diundang terus," katanya, berkelakar di sela-sela penampilannya.
Usai bersyair di atas panggung, sebagaian dari ribuan peserta langsung merangsek maju untuk bisa lebih dekat dengan sang idola sekaligus berkeinginan untuk foto bersama.
Selain Ebiet, pembukaan muktamar yang dihadiri Mensesneg Yusril Ihza Mahendra dan Sekjen DPP PBB yang juga Menhut MS Kaban itu dimarakkan dengan pembacaan puisi dari Fachry Hamka (putra ketiga Buya Hamka).
Penampilan Fachry Hamka yang membawakan puisi bertajuk Surat Kepada Ayah itu juga tampak menyentuh hati ribuan peserta muktamar, apalagi puisi yang dibawakan tanpa teks itu bertema tentang arti sebuah reformasi.
Dalam puisinya, Fachry mengungkapkan keheranannya tentang arti reformasi yang saat ini sudah disalahartikan dari tafsir awal reformasi tersebut.
Menurut dia, perubahan yang terjadi di masyarakat antara lain perilaku anak kepada orang tua dan perubahan di bidang politik yang memaknai reformasi dengan uang.
"Memanfaatkan kekuasaan untuk memperkaya diri, perkosaan ayah terhadap anak kandung yang melahirkan anak kandung sekaligus cucu kandung, pembunuhan hanya karena perkara minta rokok, itukah reformasi?," katanya.
Dalam bait puisi itu, Fachry mempertanyakan semuanya kepada ayahnya, sebab perubahan yang membuatnya heran itu tidak pernah terjadi pada masa ayahnya. "Padahal, setan yang sekarang juga setan yang itu-itu juga seperti dulu," katanya.
Di akhir puisinya, ayahnya menyebutkan bahwa reformasi sebenar-benarnya adalah Islam yakni reformasi dari zaman jahiliyah menjadi zaman yang beradab, Islam juga meletakkan dasar rahmatan lil alamin dan akhlakul karimah.
(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)
(*/dar)
Advertisement
-
Teen - Fashion Kasual Celana Jeans Ala Anak Skena: Pilihan Straight sampai Baggy yang Wajib Dicoba
