Apa Arti Sundala: Memahami Makna dan Konteks Penggunaan Kata dalam Bahasa Makassar
Perbandingan dengan Kata Umpatan Lain di Sulawesi Selatan
Kapanlagi.com - Kata "sundala" telah menjadi perbincangan hangat di media sosial, khususnya di kalangan pengguna TikTok dan platform digital lainnya. Banyak orang di luar Sulawesi Selatan yang penasaran dengan apa arti sundala sebenarnya dalam konteks budaya lokal Makassar.
Pemahaman yang tepat tentang makna kata ini sangat penting untuk menghindari kesalahpahaman dalam komunikasi. Kata sundala bukan sekadar bahasa gaul biasa, melainkan memiliki konotasi yang sangat sensitif dalam masyarakat Sulawesi Selatan.
Menurut penelitian dalam Jurnal Unismuh Makassar yang berjudul "Penggunaan Ungkapan Makian di Kalangan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar", kata sundala memiliki arti pelacur atau perempuan jalang dalam konteks apa arti sundala yang sebenarnya. Kata ini telah menjadi bagian dari dialek Makassar sejak awal tahun 1990-an dan memerlukan kehati-hatian dalam penggunaannya.
Advertisement
1. Definisi dan Makna Dasar Sundala
Kata "sundala" dalam bahasa Makassar memiliki makna yang sangat kasar dan tidak pantas. Secara harfiah, sundala berarti "pelacur" atau "perempuan jalang", yang setara dengan kata "sundal" atau "sundel" dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kata ini termasuk dalam kategori umpatan atau makian yang memiliki konotasi sangat negatif dalam masyarakat Sulawesi Selatan.
Penggunaan kata sundala pertama kali tercatat pada awal tahun 1991 di Kota Makassar. Pada masa itu, kata ini digunakan khusus untuk menyebut komunitas waria atau transgender yang ada di wilayah tersebut. Seiring berjalannya waktu, penggunaan kata ini meluas dan menjadi salah satu umpatan paling kasar dalam dialek Makassar.
Dalam konteks budaya Makassar, kata sundala tidak hanya menyinggung individu yang dituju, tetapi juga dianggap sebagai serangan terhadap harga diri atau "siri'" seseorang. Konsep siri' merupakan nilai fundamental dalam masyarakat Sulawesi Selatan yang berkaitan dengan kehormatan dan martabat. Oleh karena itu, penggunaan kata ini dapat memicu reaksi emosional yang sangat kuat, bahkan konflik fisik.
Meskipun demikian, dalam lingkaran pertemanan yang sangat akrab, kata sundala kadang-kadang digunakan sebagai bentuk candaan atau guyonan untuk menciptakan suasana santai. Namun, hal ini hanya berlaku dalam konteks yang sangat terbatas dan memerlukan pemahaman mendalam tentang hubungan antar pembicara serta situasi yang tepat.
2. Variasi dan Turunan Kata Sundala
Kata sundala memiliki beberapa variasi dan turunan yang semakin memperkuat tingkat kekasarannya. Variasi yang paling umum adalah "anassundala" yang merupakan gabungan dari kata "ana" (anak) dan "sundala". Frasa ini memiliki makna "anak pelacur" atau "anak haram", yang dianggap jauh lebih ofensif dibandingkan kata sundala itu sendiri.
Variasi lain yang populer adalah "suntili", yang merupakan akronim dari "sundala tiga kali". Kata ini menunjukkan intensitas makian yang lebih tinggi dan dianggap sebagai umpatan yang sangat kasar dalam dialek Makassar. Penggunaan kata suntili dapat memicu kemarahan yang lebih besar dibandingkan kata sundala biasa.
Dalam perkembangannya, kata-kata turunan ini telah menjadi bagian dari kosakata umpatan yang lebih luas di Sulawesi Selatan. Setiap variasi memiliki tingkat kekasaran yang berbeda, namun semuanya tetap dalam kategori bahasa yang tidak pantas untuk diucapkan sembarangan, terutama kepada orang yang tidak dikenal atau dalam situasi formal.
Pemahaman tentang variasi-variasi ini penting bagi siapa pun yang berinteraksi dengan masyarakat Sulawesi Selatan, baik dalam konteks sosial maupun profesional. Kesalahan dalam penggunaan dapat menimbulkan kesalahpahaman serius dan merusak hubungan interpersonal.
3. Konteks Sejarah dan Perkembangan Penggunaan
Sejarah kata sundala di Sulawesi Selatan dapat ditelusuri kembali ke awal dekade 1990-an. Pada masa itu, kata ini memiliki penggunaan yang lebih spesifik, yaitu untuk menyebut komunitas waria atau individu dengan identitas gender yang berbeda dari norma sosial yang berlaku saat itu. Penggunaan awal ini mencerminkan sikap diskriminatif masyarakat terhadap kelompok minoritas gender.
Seiring dengan perubahan sosial dan budaya, kata sundala mengalami perluasan makna. Dari yang awalnya digunakan untuk kelompok tertentu, kata ini kemudian menjadi umpatan umum yang digunakan dalam berbagai konteks konflik atau kemarahan. Perubahan ini menunjukkan bagaimana bahasa dapat berevolusi dan beradaptasi dengan dinamika sosial masyarakat.
Era media sosial membawa dampak signifikan terhadap popularitas kata sundala. Platform seperti TikTok, Instagram, dan Facebook menjadi medium penyebaran kata ini ke wilayah yang lebih luas, bahkan ke luar Sulawesi Selatan. Fenomena viral di media sosial membuat banyak orang dari berbagai daerah mengenal kata ini, meskipun tidak selalu memahami konteks budaya dan sensitivitasnya.
Penyebaran melalui media sosial juga menimbulkan kekhawatiran tentang penyalahgunaan kata ini oleh mereka yang tidak memahami makna dan dampaknya. Banyak konten kreator yang menggunakan kata sundala tanpa mempertimbangkan aspek budaya dan sensitivitas sosial, yang dapat menimbulkan kesalahpahaman dan konflik di dunia maya maupun dunia nyata.
4. Dampak Sosial dan Budaya dalam Masyarakat Makassar
Penggunaan kata sundala memiliki dampak sosial yang signifikan dalam masyarakat Makassar dan Sulawesi Selatan secara umum. Kata ini tidak hanya berfungsi sebagai umpatan biasa, tetapi juga menyentuh aspek fundamental budaya Makassar, yaitu konsep "siri'" atau harga diri. Dalam budaya ini, serangan verbal yang menyinggung kehormatan seseorang dapat memicu reaksi yang sangat kuat.
Dampak psikologis dari penggunaan kata sundala juga tidak dapat diabaikan. Bagi individu yang menjadi target, kata ini dapat menimbulkan trauma, rasa malu, dan penurunan harga diri. Dalam beberapa kasus, penggunaan kata ini telah memicu konflik fisik dan kekerasan, terutama ketika diucapkan dalam situasi yang tidak tepat atau kepada orang yang tidak dikenal.
Dari perspektif gender, kata sundala mencerminkan bias dan diskriminasi terhadap perempuan. Makna dasar kata ini yang merujuk pada "perempuan jalang" menunjukkan adanya standar moral ganda dalam masyarakat, di mana perempuan lebih mudah dijadikan target umpatan yang berkaitan dengan moralitas seksual.
Dalam konteks pendidikan dan sosialisasi, penggunaan kata sundala menjadi tantangan bagi orang tua dan pendidik dalam mengajarkan nilai-nilai komunikasi yang baik. Popularitas kata ini di media sosial membuat anak-anak dan remaja lebih mudah terpapar dan menggunakan kata ini tanpa memahami konsekuensinya. Hal ini memerlukan upaya edukasi yang lebih intensif tentang penggunaan bahasa yang santun dan menghormati.
5. Perbandingan dengan Kata Umpatan Lain di Sulawesi Selatan
Sulawesi Selatan memiliki kekayaan kosakata umpatan yang beragam, dan sundala merupakan salah satu yang paling populer. Kata umpatan lain yang sering digunakan antara lain "kongkong" (anjing dalam bahasa Makassar), "telaso" (kotoran penis), dan "kabulamma" (kurang ajar). Setiap kata memiliki tingkat kekasaran dan konteks penggunaan yang berbeda.
Dibandingkan dengan "kongkong" yang merujuk pada binatang, sundala memiliki konotasi yang lebih personal dan menyerang identitas gender seseorang. Hal ini membuat sundala dianggap lebih ofensif dalam banyak situasi. Sementara itu, kata seperti "telaso" memiliki makna yang lebih eksplisit secara seksual, namun tidak selalu menimbulkan reaksi emosional yang sekuat sundala.
Kata "kabulamma" atau "kabulampe" yang berarti "kurang ajar" memiliki tingkat kekasaran yang relatif lebih rendah dibandingkan sundala. Kata ini lebih sering digunakan sebagai ungkapan kekesalan terhadap situasi atau perilaku seseorang, tanpa menyerang identitas personal secara langsung.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa dalam hierarki umpatan di Sulawesi Selatan, sundala menempati posisi yang cukup tinggi dalam hal tingkat kekasaran dan potensi menimbulkan konflik. Pemahaman tentang gradasi ini penting bagi siapa pun yang ingin berkomunikasi dengan baik dalam konteks budaya Makassar.
6. Etika Penggunaan dan Dampak di Era Digital
Era digital telah mengubah cara kata sundala disebarkan dan digunakan. Platform media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube menjadi medium utama penyebaran kata ini ke audiens yang lebih luas. Banyak konten kreator yang menggunakan kata sundala untuk menarik perhatian atau menciptakan konten viral, tanpa mempertimbangkan dampak budaya dan sosialnya.
Penggunaan kata sundala di media sosial menimbulkan dilema etis. Di satu sisi, kebebasan berekspresi memberikan hak kepada setiap individu untuk menggunakan bahasa sesuai keinginannya. Di sisi lain, penggunaan kata yang memiliki konotasi negatif dan berpotensi menyinggung dapat menimbulkan dampak negatif bagi komunitas tertentu.
Fenomena viral kata sundala juga menunjukkan bagaimana budaya lokal dapat tersebar secara global melalui internet. Namun, penyebaran ini sering kali tidak disertai dengan pemahaman konteks budaya yang tepat. Banyak orang dari luar Sulawesi Selatan yang menggunakan kata ini tanpa memahami sensitivitas dan dampaknya dalam budaya asalnya.
Dalam konteks literasi digital, penting bagi pengguna media sosial untuk memahami tanggung jawab mereka dalam menggunakan bahasa. Penggunaan kata-kata yang sensitif seperti sundala memerlukan pertimbangan matang tentang audiens, konteks, dan dampak yang mungkin ditimbulkan. Edukasi tentang penggunaan bahasa yang bertanggung jawab di media sosial menjadi semakin penting di era digital ini.
7. FAQ (Frequently Asked Questions)
1. Apa arti sundala dalam bahasa Makassar?
Sundala dalam bahasa Makassar berarti "pelacur" atau "perempuan jalang", yang setara dengan kata "sundal" dalam bahasa Indonesia. Kata ini merupakan umpatan yang sangat kasar dan tidak pantas digunakan sembarangan.
2. Apakah kata sundala boleh digunakan dalam percakapan sehari-hari?
Kata sundala sebaiknya tidak digunakan dalam percakapan sehari-hari karena memiliki konotasi yang sangat negatif. Penggunaan kata ini dapat menimbulkan konflik dan menyinggung perasaan orang lain, terutama dalam budaya Makassar yang menjunjung tinggi konsep "siri'" atau harga diri.
3. Mengapa kata sundala menjadi viral di media sosial?
Kata sundala menjadi viral di media sosial karena banyak konten kreator yang menggunakannya untuk menarik perhatian atau menciptakan konten yang menghibur. Namun, popularitas ini sering kali tidak disertai dengan pemahaman yang tepat tentang makna dan sensitivitas budayanya.
4. Apa perbedaan antara sundala dan anassundala?
Anassundala merupakan gabungan dari kata "ana" (anak) dan "sundala", yang berarti "anak pelacur" atau "anak haram". Kata ini memiliki tingkat kekasaran yang lebih tinggi dibandingkan sundala karena menyerang tidak hanya individu tetapi juga keluarganya.
5. Bagaimana sejarah kata sundala di Sulawesi Selatan?
Kata sundala mulai digunakan di Sulawesi Selatan sejak awal tahun 1990-an, awalnya untuk menyebut komunitas waria atau transgender. Seiring waktu, penggunaannya meluas menjadi umpatan umum yang digunakan dalam berbagai konteks konflik atau kemarahan.
6. Apakah ada kata umpatan lain yang serupa dengan sundala di Sulawesi Selatan?
Ya, ada beberapa kata umpatan lain seperti "suntili" (sundala tiga kali), "kongkong" (anjing), "telaso" (kotoran penis), dan "kabulamma" (kurang ajar). Setiap kata memiliki tingkat kekasaran dan konteks penggunaan yang berbeda.
7. Bagaimana cara menghindari penggunaan kata sundala yang tidak tepat?
Untuk menghindari penggunaan yang tidak tepat, penting untuk memahami konteks budaya dan sensitivitas kata ini. Sebaiknya hindari menggunakan kata sundala sama sekali, terutama jika tidak memahami budaya Makassar. Gunakan bahasa yang lebih santun dan menghormati dalam berkomunikasi.
(kpl/fds)
Advertisement