cara menanam jagung, di pot, di polybag, di tanah terbuka, dari biji, dari batang, dari akar
cara menanam jagung (credit:Image by AI)
Kapanlagi.com - Jagung merupakan salah satu tanaman pangan penting yang dapat dibudidayakan dengan berbagai metode sesuai kondisi lahan. Cara menanam jagung kini semakin fleksibel, mulai dari penanaman di tanah terbuka hingga media terbatas seperti pot dan polybag.
Budidaya jagung tidak hanya terbatas pada lahan pertanian luas, tetapi juga dapat dilakukan di pekarangan rumah dengan hasil yang memuaskan. Teknik penanaman yang tepat akan menghasilkan tongkol jagung yang besar dan manis, bahkan dalam ruang terbatas.
Pemahaman tentang berbagai metode penanaman jagung sangat penting untuk memaksimalkan hasil panen. Baik menanam dari biji, batang, maupun mengoptimalkan pertumbuhan akar, setiap teknik memiliki keunggulan tersendiri yang perlu dipahami dengan baik.
Advertisement
1. Pengertian dan Dasar-Dasar Menanam Jagung
Menanam jagung adalah proses budidaya tanaman Zea mays yang termasuk dalam keluarga rumput-rumputan dengan tujuan menghasilkan biji jagung sebagai bahan pangan. Proses ini melibatkan serangkaian tahapan mulai dari persiapan media tanam, pemilihan benih, penanaman, perawatan, hingga pemanenan yang memerlukan perhatian khusus pada setiap fase pertumbuhannya.
Jagung memiliki sistem perakaran serabut yang kuat dan batang yang kokoh dengan tinggi mencapai 1-3 meter tergantung varietasnya. Tanaman ini membutuhkan sinar matahari penuh minimal 6-8 jam per hari dan suhu optimal antara 21-27 derajat Celsius untuk pertumbuhan maksimal. Kebutuhan air jagung cukup tinggi terutama pada fase pembungaan dan pengisian biji, namun tanaman ini tidak menyukai genangan air yang berlebihan.
Media tanam yang ideal untuk jagung adalah tanah gembur dengan pH 5,5-7,5 yang kaya bahan organik dan memiliki drainase baik. Struktur tanah yang baik memungkinkan akar berkembang optimal dan menyerap nutrisi secara maksimal. Pemilihan varietas jagung juga menentukan keberhasilan budidaya, di mana varietas hibrida umumnya memberikan hasil lebih tinggi dibandingkan varietas lokal namun memerlukan perawatan lebih intensif.
Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), jagung merupakan salah satu tanaman pangan terpenting di dunia dengan produksi global mencapai lebih dari 1 miliar ton per tahun. Tanaman ini memiliki adaptabilitas tinggi terhadap berbagai kondisi lingkungan, sehingga dapat dibudidayakan dari dataran rendah hingga ketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut dengan penyesuaian varietas yang tepat.
Siklus hidup jagung dari penanaman hingga panen berkisar antara 80-110 hari tergantung varietasnya. Fase vegetatif berlangsung sekitar 50-60 hari ditandai dengan pertumbuhan daun dan batang, dilanjutkan fase generatif yang meliputi pembungaan, penyerbukan, dan pengisian biji. Pemahaman tentang siklus ini penting untuk menentukan waktu pemupukan, penyiraman, dan pengendalian hama penyakit yang tepat.
2. Cara Menanam Jagung di Polybag
Menanam jagung di polybag menjadi solusi praktis bagi mereka yang memiliki keterbatasan lahan namun tetap ingin menikmati hasil panen sendiri. Metode ini sangat cocok diterapkan di pekarangan rumah, balkon, atau area terbatas lainnya dengan hasil yang tidak kalah memuaskan dibandingkan penanaman konvensional.
- Persiapan Polybag dan Media Tanam - Pilih polybag berukuran minimal 15 cm dengan tinggi 30-40 cm agar sistem perakaran jagung dapat berkembang optimal. Siapkan media tanam dengan mencampurkan tanah, sekam bakar, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1 untuk menghasilkan media yang gembur, subur, dan memiliki drainase baik. Pastikan polybag memiliki lubang drainase di bagian bawah untuk mencegah genangan air yang dapat menyebabkan pembusukan akar.
- Pemilihan dan Persiapan Benih - Pilih benih jagung berkualitas dari varietas unggul yang sesuai dengan kondisi iklim setempat. Rendam benih dalam air hangat selama 6-8 jam untuk mempercepat proses perkecambahan dan meningkatkan daya tumbuh. Benih yang baik akan tenggelam saat direndam, sementara benih yang mengapung sebaiknya dibuang karena kemungkinan tidak akan tumbuh dengan baik.
- Proses Penanaman Benih - Buat lubang tanam sedalam 2-3 cm di tengah polybag yang telah diisi media tanam. Masukkan 2 biji jagung per polybag untuk mengantisipasi kemungkinan salah satu benih tidak tumbuh. Tutup lubang dengan tanah secara merata dan lakukan penyiraman hingga media tanam basah namun tidak tergenang. Tempatkan polybag di lokasi yang mendapat sinar matahari penuh sepanjang hari.
- Penyiraman dan Pemupukan - Lakukan penyiraman rutin setiap pagi dan sore hari terutama pada fase awal pertumbuhan hingga tanaman berumur 2 minggu. Setelah tanaman berumur 2 minggu, berikan pupuk NPK dengan dosis 5 gram per polybag yang dilarutkan dalam air. Ulangi pemupukan setiap 2 minggu sekali hingga tanaman memasuki fase pembungaan untuk mendukung pertumbuhan optimal dan pembentukan tongkol yang maksimal.
- Penjarangan dan Perawatan - Setelah tanaman berumur 2 minggu dan memiliki 3-4 helai daun, lakukan penjarangan dengan menyisakan satu tanaman terkuat per polybag. Cabut tanaman yang lebih lemah dengan hati-hati agar tidak merusak akar tanaman yang dipertahankan. Lakukan penyiangan gulma secara berkala dan perhatikan serangan hama seperti ulat tongkol yang dapat merusak hasil panen.
- Pemanenan - Jagung siap dipanen setelah berumur 80-110 hari tergantung varietasnya, ditandai dengan rambut jagung yang mengering dan berwarna cokelat. Tongkol jagung yang matang akan terasa keras saat ditekan dan biji berwarna kuning cerah. Panen dilakukan dengan mematahkan tongkol dari batang utama, sebaiknya di pagi hari untuk mendapatkan kesegaran maksimal.
3. Cara Menanam Jagung di Pot
Penanaman jagung di pot memiliki prinsip yang hampir sama dengan polybag namun dengan beberapa penyesuaian terkait ukuran dan material wadah. Pot memberikan kestabilan lebih baik dan dapat menjadi elemen dekoratif di taman atau teras rumah sambil menghasilkan panen yang bermanfaat.
Pilih pot dengan diameter minimal 30 cm dan kedalaman 40 cm untuk memberikan ruang cukup bagi pertumbuhan akar jagung yang optimal. Pot berbahan tanah liat atau plastik tebal dapat digunakan, namun pastikan memiliki lubang drainase yang memadai di bagian bawah. Material pot tanah liat memiliki keunggulan dalam sirkulasi udara yang lebih baik, sementara pot plastik lebih ringan dan mudah dipindahkan sesuai kebutuhan sinar matahari.
Media tanam untuk pot sebaiknya lebih ringan dibandingkan penanaman di tanah terbuka dengan menambahkan lebih banyak bahan organik seperti kompos dan cocopeat. Campuran ideal terdiri dari tanah kebun 40%, kompos 30%, sekam bakar 20%, dan cocopeat 10% untuk menghasilkan media yang gembur namun tetap mampu menahan kelembaban. Tambahkan pupuk kandang matang sebanyak 2-3 genggam per pot sebagai sumber nutrisi awal yang akan mendukung pertumbuhan tanaman.
Proses penanaman dimulai dengan mengisi pot hingga 3/4 bagian dengan media tanam yang telah disiapkan. Buat lubang tanam sedalam 3 cm di tengah pot dan masukkan 2 biji jagung per pot. Tutup dengan tanah dan siram hingga air keluar dari lubang drainase, menandakan media tanam telah basah merata. Penempatan pot di lokasi yang mendapat sinar matahari langsung minimal 6 jam per hari sangat penting untuk pertumbuhan optimal dan pembentukan tongkol yang baik.
Perawatan tanaman jagung di pot memerlukan perhatian lebih intensif terhadap penyiraman karena media tanam dalam pot cenderung lebih cepat kering. Periksa kelembaban media setiap hari dengan memasukkan jari sedalam 5 cm, jika terasa kering segera lakukan penyiraman. Pemupukan susulan diberikan setiap 2 minggu sekali menggunakan pupuk NPK atau pupuk organik cair dengan dosis sesuai anjuran kemasan untuk menjaga ketersediaan nutrisi yang cukup bagi tanaman.
4. Cara Menanam Jagung di Tanah Terbuka
Penanaman jagung di tanah terbuka merupakan metode konvensional yang paling umum dilakukan dan memberikan hasil panen maksimal. Metode ini cocok untuk skala budidaya yang lebih luas dengan potensi produksi tinggi jika dilakukan dengan teknik yang tepat.
- Persiapan Lahan - Lakukan pengolahan tanah dengan membajak atau mencangkul sedalam 20-30 cm untuk menggemburkan tanah dan membuang gulma. Biarkan tanah terpapar sinar matahari selama 7-14 hari untuk membunuh patogen dan hama tanah. Buat bedengan dengan lebar 100-120 cm dan tinggi 20-30 cm dengan jarak antar bedengan 40-50 cm untuk memudahkan drainase dan perawatan tanaman.
- Pengapuran dan Pemupukan Dasar - Aplikasikan kapur pertanian dengan dosis 1-2 ton per hektar jika pH tanah di bawah 5,5 untuk menetralkan keasaman tanah. Berikan pupuk kandang matang sebanyak 10-15 ton per hektar yang dicampur merata dengan tanah sebagai pupuk dasar. Tambahkan pupuk NPK dengan dosis 200-300 kg per hektar yang diberikan 1 minggu sebelum tanam untuk menyediakan nutrisi awal yang cukup.
- Pengaturan Jarak Tanam - Tentukan jarak tanam yang tepat sesuai varietas jagung yang ditanam, umumnya menggunakan jarak 70 x 20 cm atau 60 x 40 cm. Jarak tanam yang tepat mencegah persaingan nutrisi antar tanaman dan memudahkan sirkulasi udara yang baik. Buat lubang tanam sedalam 3-5 cm pada setiap titik yang telah ditentukan dengan menggunakan tugal atau alat tanam lainnya.
- Penanaman Benih - Masukkan 2-3 biji jagung per lubang tanam untuk mengantisipasi daya tumbuh yang tidak sempurna. Tutup lubang dengan tanah secara merata dan padatkan sedikit agar benih tidak mudah terbawa air saat penyiraman. Lakukan penyiraman segera setelah tanam jika kondisi tanah kering, namun hindari penyiraman berlebihan yang dapat menyebabkan benih membusuk.
- Penyulaman dan Penjarangan - Lakukan penyulaman pada tanaman yang tidak tumbuh setelah 7-10 hari tanam dengan menanam benih baru di lubang yang kosong. Setelah tanaman berumur 2 minggu, lakukan penjarangan dengan menyisakan 1 tanaman terbaik per lubang. Tanaman yang dicabut dapat dipindahkan ke lubang yang kosong jika masih memungkinkan atau dibuang jika sudah tidak layak.
- Pemupukan Susulan - Berikan pupuk susulan pertama saat tanaman berumur 3-4 minggu dengan dosis Urea 200 kg/ha dan KCl 100 kg/ha. Pemupukan kedua dilakukan saat tanaman berumur 6-7 minggu atau menjelang pembungaan dengan dosis yang sama. Aplikasikan pupuk dengan cara ditugal pada jarak 10 cm dari batang tanaman sedalam 5-7 cm kemudian ditutup tanah untuk efisiensi penyerapan.
- Pengendalian Hama dan Penyakit - Lakukan monitoring rutin terhadap serangan hama seperti ulat tongkol, penggerek batang, dan belalang yang dapat menurunkan hasil panen. Pengendalian dapat dilakukan secara mekanis dengan mengambil hama secara manual atau menggunakan pestisida nabati. Untuk penyakit seperti bulai dan karat daun, lakukan pencegahan dengan menjaga sanitasi lahan dan menggunakan varietas tahan penyakit.
Menurut Kementerian Pertanian Republik Indonesia, produktivitas jagung nasional dapat mencapai 5-6 ton per hektar dengan penerapan teknologi budidaya yang tepat. Faktor kunci keberhasilan meliputi penggunaan benih unggul bersertifikat, pemupukan berimbang sesuai kebutuhan tanaman, pengairan yang cukup terutama pada fase kritis, dan pengendalian hama penyakit yang efektif.
5. Cara Menanam Jagung dari Biji
Penanaman jagung dari biji merupakan metode paling umum dan efektif dalam budidaya jagung baik untuk skala rumahan maupun komersial. Pemahaman tentang seleksi biji, perlakuan benih, dan teknik penanaman yang tepat akan menentukan keberhasilan pertumbuhan tanaman hingga menghasilkan panen yang optimal.
Seleksi biji jagung berkualitas menjadi langkah awal yang sangat penting dalam proses budidaya. Pilih biji dari tongkol yang sehat, berukuran besar, dan berasal dari tanaman yang produktif dengan karakteristik unggul. Biji jagung yang baik memiliki ukuran seragam, tidak keriput, tidak berlubang, dan bebas dari serangan hama atau penyakit. Untuk hasil terbaik, gunakan benih bersertifikat dari produsen terpercaya yang telah melalui proses seleksi ketat dan memiliki daya tumbuh minimal 90 persen.
Perlakuan benih sebelum tanam bertujuan meningkatkan daya kecambah dan melindungi benih dari serangan hama penyakit di dalam tanah. Rendam biji jagung dalam air bersih selama 6-8 jam atau semalaman untuk melunakkan kulit biji dan mengaktifkan enzim perkecambahan. Setelah direndam, tiriskan dan keringkan biji di tempat teduh selama 1-2 jam hingga tidak terlalu basah. Untuk perlindungan ekstra, biji dapat dilapisi dengan fungisida organik atau rendaman air kelapa muda yang mengandung hormon alami untuk merangsang pertumbuhan.
Teknik penanaman biji jagung yang benar dimulai dengan pembuatan lubang tanam sedalam 3-5 cm tergantung ukuran biji dan kondisi tanah. Pada tanah yang gembur, kedalaman 3 cm sudah cukup, sementara pada tanah yang lebih padat diperlukan kedalaman hingga 5 cm. Masukkan 2-3 biji per lubang dengan posisi horizontal atau dengan bagian runcing menghadap ke bawah untuk memudahkan pertumbuhan akar dan tunas. Tutup lubang dengan tanah gembur dan padatkan sedikit agar biji tidak mudah terbawa air namun tetap memungkinkan tunas menembus permukaan tanah.
Perkecambahan biji jagung umumnya terjadi dalam waktu 5-7 hari setelah tanam tergantung kondisi suhu dan kelembaban tanah. Suhu optimal untuk perkecambahan adalah 25-30 derajat Celsius dengan kelembaban tanah sekitar 60-70 persen. Jaga kelembaban tanah dengan penyiraman ringan setiap hari terutama pada pagi hari, hindari penyiraman berlebihan yang dapat menyebabkan biji membusuk sebelum berkecambah. Setelah tunas muncul di permukaan tanah, kurangi frekuensi penyiraman namun tingkatkan volume air untuk mendorong pertumbuhan akar yang dalam dan kuat.
6. Perawatan dan Pemeliharaan Tanaman Jagung
Perawatan tanaman jagung yang intensif dan tepat waktu sangat menentukan kualitas dan kuantitas hasil panen yang akan diperoleh. Setiap fase pertumbuhan memerlukan perhatian khusus dengan perlakuan yang berbeda sesuai kebutuhan tanaman pada periode tersebut.
Penyiraman merupakan aspek krusial dalam budidaya jagung karena tanaman ini membutuhkan pasokan air yang cukup namun tidak berlebihan. Pada fase vegetatif awal hingga tanaman berumur 4 minggu, lakukan penyiraman setiap hari terutama jika tidak ada hujan untuk menjaga kelembaban tanah. Memasuki fase pembungaan dan pengisian biji yang merupakan fase kritis, kebutuhan air meningkat signifikan sehingga penyiraman harus lebih intensif. Kekurangan air pada fase ini dapat menyebabkan gagal panen atau tongkol tidak terisi penuh, sementara kelebihan air dapat memicu penyakit akar dan batang.
Pemupukan susulan dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan nutrisi tanaman pada setiap fase pertumbuhan. Pemupukan pertama diberikan saat tanaman berumur 3-4 minggu menggunakan pupuk nitrogen tinggi untuk mendorong pertumbuhan vegetatif. Pemupukan kedua dilakukan menjelang pembungaan dengan komposisi NPK berimbang untuk mendukung pembentukan bunga dan tongkol. Aplikasi pupuk sebaiknya dilakukan dengan cara ditugal atau dibenamkan di sekitar tanaman dengan jarak 10-15 cm dari batang untuk efisiensi penyerapan dan menghindari penguapan.
Penyiangan gulma harus dilakukan secara rutin terutama pada 2 bulan pertama pertumbuhan karena gulma akan bersaing dengan tanaman jagung dalam memperebutkan nutrisi, air, dan cahaya matahari. Lakukan penyiangan manual dengan mencabut gulma beserta akarnya atau menggunakan kored untuk memotong gulma di permukaan tanah. Bersamaan dengan penyiangan, lakukan pembumbunan atau penimbunan tanah di sekitar pangkal batang untuk memperkuat berdirinya tanaman dan merangsang pertumbuhan akar adventif yang akan meningkatkan penyerapan nutrisi.
Pengendalian hama dan penyakit harus dilakukan secara preventif dan kuratif untuk meminimalkan kerusakan tanaman. Hama utama jagung meliputi ulat tongkol yang menyerang bunga dan biji muda, penggerek batang yang membuat lubang pada batang, serta belalang yang memakan daun. Pengendalian dapat dilakukan dengan pemasangan perangkap feromon, aplikasi pestisida nabati seperti ekstrak daun mimba, atau penggunaan musuh alami seperti Trichogramma. Untuk penyakit seperti bulai, karat daun, dan busuk batang, pencegahan melalui sanitasi lahan, penggunaan varietas tahan, dan aplikasi fungisida organik lebih efektif dibandingkan pengendalian setelah tanaman terserang.
7. Teknik Khusus: Menanam dari Batang dan Optimalisasi Akar
Meskipun penanaman jagung dari batang bukan metode konvensional seperti tanaman lain yang mudah diperbanyak secara vegetatif, pemahaman tentang struktur batang dan sistem perakaran jagung tetap penting untuk optimalisasi pertumbuhan. Jagung memiliki karakteristik unik dalam pembentukan akar adventif yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas tanaman.
Batang jagung memiliki struktur ruas-ruas yang pada kondisi tertentu dapat mengeluarkan akar adventif atau akar udara, terutama pada ruas-ruas bagian bawah yang dekat dengan permukaan tanah. Akar adventif ini berfungsi sebagai penyangga tambahan dan meningkatkan kapasitas penyerapan nutrisi serta air dari tanah. Untuk merangsang pembentukan akar adventif yang optimal, lakukan pembumbunan atau penimbunan tanah di sekitar pangkal batang hingga menutupi 2-3 ruas terbawah saat tanaman berumur 3-4 minggu. Teknik ini tidak hanya memperkuat berdirinya tanaman terhadap angin kencang tetapi juga memperluas zona perakaran yang aktif menyerap nutrisi.
Sistem perakaran jagung yang sehat dan kuat menjadi fondasi utama pertumbuhan tanaman yang vigor dan produktif. Akar jagung terdiri dari akar primer yang tumbuh dari biji, akar sekunder yang bercabang dari akar primer, dan akar adventif yang muncul dari ruas batang bagian bawah. Untuk mengoptimalkan pertumbuhan akar, pastikan media tanam memiliki struktur gembur dengan aerasi baik sehingga akar dapat menembus tanah dengan mudah. Kedalaman perakaran jagung dapat mencapai 100-150 cm pada tanah yang ideal, namun sebagian besar akar aktif berada pada kedalaman 30-60 cm.
Teknik pemangkasan akar atau root pruning tidak umum dilakukan pada jagung karena dapat mengganggu pertumbuhan tanaman, namun pada budidaya dalam pot atau polybag, pemahaman tentang pertumbuhan akar penting untuk menentukan ukuran wadah yang tepat. Akar jagung yang terhambat pertumbuhannya karena wadah terlalu kecil akan menyebabkan tanaman kerdil dan produksi tongkol tidak optimal. Oleh karena itu, gunakan wadah dengan kedalaman minimal 40 cm dan diameter 30 cm untuk memberikan ruang cukup bagi ekspansi sistem perakaran.
Aplikasi pupuk hayati atau mikroorganisme menguntungkan seperti mikoriza dan rhizobium dapat meningkatkan efisiensi penyerapan nutrisi oleh akar jagung. Mikoriza membentuk simbiosis dengan akar tanaman dan memperluas jangkauan penyerapan nutrisi terutama fosfor yang sulit larut dalam tanah. Aplikasi mikoriza dilakukan saat tanam dengan mencampurkan inokulan ke dalam lubang tanam atau media tanam dengan dosis sesuai anjuran. Selain itu, pemberian pupuk organik cair yang mengandung asam humat dan asam fulvat secara rutin dapat merangsang pertumbuhan akar halus yang lebih banyak dan meningkatkan kapasitas penyerapan nutrisi secara keseluruhan.
8. FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
1. Berapa lama waktu yang dibutuhkan jagung dari tanam hingga panen?
Waktu panen jagung bervariasi tergantung varietas yang ditanam, umumnya berkisar antara 80-110 hari setelah tanam. Jagung manis biasanya lebih cepat dipanen sekitar 70-80 hari, sementara jagung pakan atau jagung pipil memerlukan waktu 100-110 hari hingga benar-benar matang. Tanda jagung siap panen adalah rambut jagung mengering berwarna cokelat, kulit tongkol mengering, dan biji terasa keras saat ditekan.
2. Apakah jagung bisa ditanam di polybag dan berapa ukuran polybag yang ideal?
Jagung dapat ditanam di polybag dengan hasil yang cukup memuaskan untuk konsumsi rumah tangga. Ukuran polybag yang ideal adalah diameter minimal 15-20 cm dengan tinggi 30-40 cm agar sistem perakaran jagung dapat berkembang optimal. Gunakan media tanam campuran tanah, sekam bakar, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1 untuk menghasilkan media yang gembur dan subur.
3. Berapa banyak air yang dibutuhkan tanaman jagung setiap hari?
Kebutuhan air jagung bervariasi tergantung fase pertumbuhan dan kondisi cuaca. Pada fase vegetatif awal, tanaman membutuhkan penyiraman rutin setiap hari dengan volume sekitar 1-2 liter per tanaman jika tidak ada hujan. Pada fase pembungaan dan pengisian biji, kebutuhan air meningkat menjadi 2-3 liter per tanaman per hari karena merupakan fase kritis yang sangat menentukan hasil panen.
4. Apa penyebab tongkol jagung tidak terisi penuh atau kosong?
Tongkol jagung tidak terisi penuh atau kosong dapat disebabkan oleh beberapa faktor, terutama kekurangan air pada fase pembungaan dan pengisian biji yang merupakan fase kritis. Penyebab lain meliputi kekurangan nutrisi terutama nitrogen dan fosfor, penyerbukan yang tidak sempurna karena cuaca buruk atau kurangnya populasi tanaman, serta serangan hama seperti ulat tongkol yang merusak biji muda.
5. Apakah jagung perlu dipupuk dan kapan waktu pemupukan yang tepat?
Jagung memerlukan pemupukan untuk menghasilkan tongkol yang besar dan berkualitas. Pemupukan dasar diberikan saat pengolahan lahan menggunakan pupuk kandang dan NPK. Pemupukan susulan pertama dilakukan saat tanaman berumur 3-4 minggu menggunakan pupuk nitrogen tinggi, dan pemupukan kedua saat tanaman berumur 6-7 minggu menjelang pembungaan dengan pupuk NPK berimbang untuk mendukung pembentukan tongkol.
6. Bagaimana cara mengatasi hama ulat pada tanaman jagung?
Pengendalian ulat pada jagung dapat dilakukan secara terpadu mulai dari pencegahan hingga pengendalian langsung. Lakukan monitoring rutin untuk mendeteksi keberadaan telur atau ulat kecil pada daun dan bunga jagung. Pengendalian mekanis dengan mengambil ulat secara manual cukup efektif untuk skala kecil. Untuk pengendalian biologis, gunakan pestisida nabati seperti ekstrak daun mimba atau aplikasikan Bacillus thuringiensis yang aman dan efektif membunuh ulat tanpa merusak lingkungan.
7. Apakah jagung bisa ditanam sepanjang tahun?
Jagung dapat ditanam sepanjang tahun di Indonesia karena iklim tropis yang mendukung, namun hasil terbaik diperoleh pada musim kemarau dengan curah hujan yang tidak terlalu tinggi. Penanaman di musim hujan berisiko terhadap serangan penyakit jamur dan busuk tongkol akibat kelembaban tinggi. Jika menanam di musim hujan, pilih varietas yang tahan penyakit dan pastikan drainase lahan baik untuk menghindari genangan air yang dapat merusak tanaman.
Yuk, baca artikel seputar panduan dan cara menarik lainnya di Kapanlagi.com. Kalau bukan sekarang, KapanLagi?
(kpl/vna)
Advertisement