Panduan Lengkap Cara Menanam Seledri: Hidroponik, Pot, Polybag, dan Lahan Terbuka

Panduan Lengkap Cara Menanam Seledri: Hidroponik, Pot, Polybag, dan Lahan Terbuka
cara menanam seledri hidroponik, di pot, di polybag, di lahan terbuka, dari biji, dari batang, dari akar

Kapanlagi.com - Seledri merupakan tanaman sayuran daun yang banyak digunakan sebagai pelengkap masakan dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Tanaman ini dapat dibudidayakan dengan berbagai metode, mulai dari sistem hidroponik modern hingga cara konvensional di lahan terbuka. Kemudahan dalam perawatan dan masa panen yang relatif singkat menjadikan seledri pilihan tepat bagi pemula yang ingin memulai berkebun.

Berbagai teknik penanaman seledri dapat disesuaikan dengan kondisi lahan dan ketersediaan media yang dimiliki. Metode hidroponik cocok untuk lahan terbatas, sementara penanaman di pot dan polybag memberikan fleksibilitas dalam penempatan. Untuk hasil panen yang lebih banyak, budidaya di lahan terbuka tetap menjadi pilihan utama para petani.

Artikel ini akan membahas secara lengkap cara menanam seledri dengan berbagai metode, mulai dari persiapan benih hingga teknik panen yang tepat. Setiap metode memiliki keunggulan tersendiri yang dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang tersedia.

1. Mengenal Tanaman Seledri dan Manfaatnya

Seledri atau Apium graveolens adalah tanaman sayuran yang termasuk dalam keluarga Apiaceae. Tanaman ini memiliki aroma khas yang kuat dan sering digunakan sebagai bumbu penyedap masakan, garnish, atau bahan pelengkap sup dan salad. Seledri mengandung berbagai nutrisi penting seperti vitamin A, vitamin C, vitamin K, serta mineral seperti kalium dan folat yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh.

Tanaman seledri memiliki karakteristik batang yang berongga dengan daun majemuk berwarna hijau cerah. Tinggi tanaman dapat mencapai 30-60 cm tergantung varietas dan kondisi pertumbuhan. Akar seledri berbentuk serabut yang menyebar ke berbagai arah, sehingga memerlukan media tanam yang gembur dan kaya nutrisi untuk pertumbuhan optimal.

Budidaya seledri dapat dilakukan sepanjang tahun di daerah tropis seperti Indonesia. Tanaman ini tumbuh baik pada ketinggian 1000-1200 meter di atas permukaan laut dengan suhu optimal 15-24°C. Namun, seledri juga dapat beradaptasi pada dataran rendah dengan perawatan yang tepat, terutama dalam hal pengaturan kelembaban dan penyiraman.

Melansir dari cybex.pertanian.go.id, seledri termasuk tanaman yang cocok dibudidayakan dengan sistem hidroponik karena memiliki sistem perakaran yang tidak terlalu dalam dan dapat tumbuh dengan baik dalam media air bernutrisi. Masa panen seledri berkisar antara 60-90 hari setelah tanam, tergantung pada metode budidaya dan perawatan yang dilakukan.

2. Cara Menanam Seledri Hidroponik

Cara Menanam Seledri Hidroponik (c) Ilustrasi AI

Sistem hidroponik menjadi pilihan populer untuk menanam seledri, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan lahan. Metode ini memanfaatkan air bernutrisi sebagai media tanam pengganti tanah, sehingga tanaman dapat tumbuh lebih cepat dan bersih dari kontaminasi tanah.

Persiapan awal untuk menanam seledri hidroponik dimulai dengan pemilihan sistem yang akan digunakan. Sistem wick atau sumbu adalah yang paling sederhana dan cocok untuk pemula. Sistem ini menggunakan sumbu untuk menarik larutan nutrisi dari wadah ke media tanam tempat akar seledri berada. Alternatif lain adalah sistem NFT (Nutrient Film Technique) atau sistem rakit apung yang lebih cocok untuk budidaya skala lebih besar.

Media tanam hidroponik untuk seledri dapat menggunakan rockwool, cocopeat, atau arang sekam. Rockwool paling sering dipilih karena memiliki daya serap air yang baik dan dapat menopang tanaman dengan stabil. Untuk memulai, benih seledri disemai terlebih dahulu pada rockwool atau media semai lainnya. Buat lubang kecil sedalam 2-3 mm, masukkan 2-3 biji seledri, lalu tutup tipis dengan media semai.

Setelah benih berkecambah dan memiliki 2-4 daun sejati (sekitar 2-3 minggu), bibit siap dipindahkan ke sistem hidroponik utama. Pindahkan bibit beserta media semainya ke dalam netpot yang telah diisi dengan media hidroponik seperti hidroton atau expanded clay. Pastikan akar tanaman dapat menjangkau larutan nutrisi yang berada di bawahnya.

Larutan nutrisi hidroponik untuk seledri harus memiliki kepekatan yang tepat, biasanya dengan EC (Electrical Conductivity) sekitar 1.5-2.0 mS/cm dan pH antara 6.0-6.5. Nutrisi AB mix khusus sayuran daun dapat digunakan dengan mengikuti petunjuk dosis pada kemasan. Ganti larutan nutrisi setiap 1-2 minggu sekali untuk menjaga kualitas nutrisi dan mencegah pertumbuhan alga.

Penempatan sistem hidroponik seledri sebaiknya di lokasi yang mendapat cahaya matahari cukup, minimal 6-8 jam per hari. Jika ditanam indoor, gunakan lampu grow light dengan intensitas cahaya yang memadai. Suhu lingkungan dijaga antara 18-24°C dengan kelembaban udara sekitar 60-70% untuk pertumbuhan optimal.

Perawatan rutin meliputi pengecekan pH dan EC larutan nutrisi setiap 2-3 hari sekali, memastikan sumbu atau sistem sirkulasi berfungsi dengan baik, serta mengontrol hama dan penyakit. Seledri hidroponik umumnya lebih tahan terhadap hama tanah, namun tetap perlu diwaspadai serangan kutu daun atau thrips yang dapat dikendalikan dengan pestisida organik.

Panen seledri hidroponik dapat dilakukan setelah tanaman berusia 60-75 hari atau ketika tinggi tanaman mencapai 25-30 cm. Pemanenan dilakukan dengan cara mencabut seluruh tanaman dari netpot atau memotong batang di atas pangkal akar jika ingin tanaman tumbuh kembali untuk panen berikutnya.

3. Cara Menanam Seledri di Pot

Cara Menanam Seledri di Pot (c) Ilustrasi AI

Menanam seledri di pot merupakan solusi praktis bagi mereka yang ingin berkebun di rumah dengan ruang terbatas. Metode ini memberikan fleksibilitas dalam penempatan dan perawatan, serta memudahkan kontrol terhadap kondisi media tanam dan nutrisi yang diberikan kepada tanaman.

1. Pemilihan Pot yang Tepat

Pilih pot dengan diameter minimal 20-30 cm dan kedalaman 25-30 cm untuk memberikan ruang yang cukup bagi perkembangan akar seledri. Pot berbahan tanah liat atau plastik dapat digunakan, namun pastikan memiliki lubang drainase di bagian bawah untuk mencegah genangan air. Pot tanah liat memiliki keunggulan dalam sirkulasi udara yang lebih baik, sementara pot plastik lebih ringan dan mudah dipindahkan.

2. Persiapan Media Tanam

Media tanam untuk seledri di pot harus gembur, subur, dan memiliki drainase yang baik. Campurkan tanah top soil, kompos atau pupuk kandang matang, dan sekam bakar dengan perbandingan 2:1:1. Tambahkan sedikit pasir jika tanah terlalu liat untuk meningkatkan porositas. pH media tanam ideal untuk seledri berkisar antara 6.0-7.0.

3. Penanaman Benih atau Bibit

Seledri dapat ditanam dari biji atau bibit yang sudah disemai terlebih dahulu. Jika menanam dari biji, sebarkan 5-7 biji di permukaan media tanam yang sudah dibasahi, lalu tutup tipis dengan media setebal 2-3 mm. Jika menggunakan bibit hasil semai, buat lubang tanam sedalam 5 cm dan tanam bibit dengan hati-hati agar akar tidak rusak. Jarak tanam antar bibit dalam satu pot sebaiknya 10-15 cm.

4. Penyiraman dan Pemupukan

Seledri membutuhkan kelembaban yang konsisten namun tidak tergenang. Siram tanaman setiap pagi atau sore hari, sesuaikan dengan kondisi cuaca dan kelembaban media. Pada musim kering, penyiraman mungkin perlu dilakukan dua kali sehari. Berikan pupuk cair organik atau NPK dengan dosis rendah setiap 2 minggu sekali untuk mendukung pertumbuhan daun yang lebat.

5. Penempatan dan Perawatan

Letakkan pot seledri di lokasi yang mendapat sinar matahari pagi selama 4-6 jam per hari. Seledri tidak menyukai sinar matahari yang terlalu terik sepanjang hari karena dapat membuat daun layu dan pertumbuhan terhambat. Lakukan penyiangan gulma secara berkala dan periksa tanaman dari serangan hama seperti ulat atau kutu daun.

6. Panen

Seledri di pot dapat dipanen setelah berusia 70-90 hari atau ketika tinggi tanaman mencapai 25-35 cm. Panen dapat dilakukan dengan memotong batang bagian luar terlebih dahulu, sehingga bagian tengah dapat terus tumbuh untuk panen berikutnya. Cara ini memungkinkan panen berkelanjutan selama beberapa bulan.

4. Cara Menanam Seledri di Polybag

Cara Menanam Seledri di Polybag (c) Ilustrasi AI

Polybag menjadi alternatif wadah tanam yang ekonomis dan praktis untuk budidaya seledri. Metode ini sangat cocok untuk pemula karena biaya yang terjangkau, mudah dipindahkan, dan dapat diatur sesuai dengan ketersediaan ruang yang ada.

1. Persiapan Polybag

Gunakan polybag berukuran minimal 20x25 cm atau 25x30 cm untuk memberikan ruang yang cukup bagi pertumbuhan akar seledri. Pastikan polybag memiliki lubang drainase di bagian bawah. Jika belum ada, buat 5-7 lubang kecil menggunakan paku atau alat tajam lainnya untuk mencegah air tergenang yang dapat menyebabkan pembusukan akar.

2. Media Tanam

Campurkan tanah, kompos atau pupuk kandang, dan arang sekam dengan perbandingan 1:1:1 seperti yang disarankan dalam budidaya polybag gardening. Media ini memberikan nutrisi yang cukup, drainase yang baik, dan struktur yang gembur untuk perkembangan akar. Isi polybag hingga 2-3 cm dari bibir atas dan padatkan sedikit agar media tidak terlalu longgar.

3. Penanaman

Benih seledri dapat disemai terlebih dahulu dalam polybag kecil berukuran 8x9 cm. Setelah bibit memiliki 3-4 daun sejati (sekitar 3-4 minggu), pindahkan ke polybag yang lebih besar. Buat lubang tanam di tengah media, masukkan bibit beserta media semainya, lalu timbun dengan media tanam hingga pangkal batang. Tekan perlahan agar bibit berdiri tegak dan akar kontak dengan media.

4. Penempatan

Susun polybag seledri di lokasi yang mendapat cahaya matahari cukup namun tidak terlalu terik. Polybag dapat disusun di rak bertingkat untuk menghemat ruang atau diletakkan langsung di permukaan tanah. Pastikan ada sirkulasi udara yang baik antar polybag untuk mencegah kelembaban berlebih yang dapat memicu penyakit jamur.

5. Perawatan Rutin

Siram seledri di polybag setiap pagi atau sore hari, sesuaikan dengan kondisi cuaca. Media dalam polybag cenderung lebih cepat kering dibanding di tanah langsung, sehingga perlu perhatian ekstra dalam penyiraman. Berikan pupuk cair organik setiap 10-14 hari sekali dengan dosis sesuai anjuran. Lakukan pengecekan rutin terhadap hama dan penyakit, segera ambil tindakan jika ditemukan gejala serangan.

6. Panen dan Pasca Panen

Seledri di polybag dapat dipanen pada usia 60-80 hari setelah tanam. Panen dilakukan dengan memotong batang di atas pangkal akar atau mencabut seluruh tanaman jika ingin mengganti dengan tanaman baru. Setelah panen, media tanam dalam polybag dapat digunakan kembali dengan menambahkan kompos segar dan membiarkannya istirahat selama 1-2 minggu sebelum ditanami kembali.

5. Cara Menanam Seledri di Lahan Terbuka

Cara Menanam Seledri di Lahan Terbuka (c) Ilustrasi AI

Budidaya seledri di lahan terbuka merupakan metode konvensional yang masih banyak dipraktikkan oleh petani karena dapat menghasilkan produksi dalam jumlah besar. Metode ini memerlukan persiapan lahan yang baik dan perawatan yang intensif untuk mendapatkan hasil panen yang optimal.

Persiapan lahan dimulai dengan pengolahan tanah secara sempurna. Bajak atau cangkul tanah sedalam 30-40 cm untuk menggemburkan struktur tanah dan membuang sisa-sisa tanaman sebelumnya. Biarkan tanah terkena sinar matahari selama 3-7 hari untuk membunuh patogen dan hama yang ada dalam tanah. Setelah itu, campurkan pupuk kandang atau kompos matang sebanyak 10-15 ton per hektar dan ratakan ke seluruh permukaan lahan.

Pembuatan bedengan dilakukan dengan lebar 100-120 cm, tinggi 20-30 cm, dan panjang sesuai dengan kondisi lahan. Jarak antar bedengan sekitar 40-50 cm untuk memudahkan akses perawatan dan pemanenan. Permukaan bedengan diratakan dan dipadatkan sedikit agar tidak mudah longsor saat disiram. Pasang mulsa plastik hitam perak jika diperlukan untuk menjaga kelembaban tanah dan menekan pertumbuhan gulma.

Penanaman seledri di lahan terbuka umumnya menggunakan bibit yang sudah disemai terlebih dahulu. Bibit berusia 4-5 minggu dengan tinggi 8-10 cm dan memiliki 4-5 daun sejati siap dipindahkan ke lahan. Buat lubang tanam dengan jarak 20x20 cm atau 25x25 cm tergantung varietas. Tanam bibit pada sore hari untuk mengurangi stres akibat perpindahan, masukkan bibit beserta media semainya ke dalam lubang, lalu timbun dan padatkan tanah di sekitar pangkal batang.

Penyiraman dilakukan segera setelah tanam untuk membantu bibit beradaptasi dengan lingkungan baru. Pada minggu pertama, siram setiap hari pada pagi dan sore hari. Setelah tanaman mulai tumbuh aktif, frekuensi penyiraman dapat dikurangi menjadi sekali sehari atau sesuai kondisi cuaca. Gunakan sistem irigasi tetes atau sprinkler untuk efisiensi penggunaan air pada lahan yang luas.

Pemupukan susulan diberikan mulai usia 2 minggu setelah tanam dengan interval 2 minggu sekali. Gunakan pupuk NPK dengan perbandingan tinggi nitrogen untuk mendukung pertumbuhan daun, seperti NPK 16-16-16 atau 20-10-10 dengan dosis 200-300 kg per hektar. Pupuk dapat diberikan dengan cara ditabur di sekitar tanaman atau dilarutkan dalam air untuk penyiraman.

Pengendalian hama dan penyakit di lahan terbuka memerlukan perhatian khusus karena tanaman lebih rentan terhadap serangan. Hama yang sering menyerang seledri antara lain ulat daun, kutu daun, dan trips. Penyakit yang umum adalah bercak daun, busuk batang, dan layu fusarium. Lakukan monitoring rutin setiap 2-3 hari sekali dan aplikasikan pestisida organik atau kimia sesuai kebutuhan dengan memperhatikan masa tunggu panen.

Penyiangan gulma dilakukan secara berkala, terutama pada 4 minggu pertama saat tanaman masih kecil dan mudah kalah bersaing dengan gulma. Penggemburan tanah di sekitar tanaman juga penting untuk menjaga aerasi akar dan memudahkan penyerapan nutrisi. Panen seledri di lahan terbuka dapat dilakukan pada usia 70-90 hari setelah tanam atau ketika tinggi tanaman mencapai 30-40 cm dengan cara mencabut seluruh tanaman atau memotong batang di atas permukaan tanah.

6. Cara Menanam Seledri dari Biji, Batang, dan Akar

Cara Menanam Seledri dari Biji, Batang, dan Akar (c) Ilustrasi AI

Seledri dapat diperbanyak dengan tiga cara utama: dari biji, batang, dan akar. Setiap metode memiliki teknik dan keunggulan tersendiri yang dapat dipilih sesuai dengan ketersediaan bahan tanam dan tujuan budidaya.

Menanam Seledri dari Biji

Penanaman dari biji adalah metode yang paling umum dan menghasilkan tanaman dengan kualitas terbaik. Pilih benih seledri berkualitas dari toko pertanian terpercaya, pastikan benih masih segar dengan daya kecambah minimal 80%. Benih seledri berukuran sangat kecil, sehingga perlu kehati-hatian dalam penanganannya.

Proses penyemaian dimulai dengan menyiapkan media semai berupa campuran tanah halus yang sudah diayak, kompos, dan sekam bakar dengan perbandingan 1:1:1. Isi wadah semai seperti tray semai, polybag kecil, atau pot kecil dengan media tersebut. Basahi media hingga lembab merata, lalu taburkan benih di permukaan media dengan jarak yang tidak terlalu rapat. Tutup tipis dengan media setebal 2-3 mm atau cukup ditepuk-tepuk agar benih kontak dengan media.

Letakkan wadah semai di tempat yang teduh namun tetap mendapat cahaya tidak langsung. Tutup dengan plastik transparan atau koran basah untuk menjaga kelembaban. Penyiraman dilakukan dengan semprotan halus agar benih tidak terbawa air. Benih akan berkecambah dalam 7-14 hari. Setelah berkecambah, buka penutup dan pindahkan ke tempat yang lebih terang. Bibit siap dipindahkan ke media tanam permanen setelah memiliki 3-4 daun sejati atau berusia 3-4 minggu.

Menanam Seledri dari Batang

Metode ini memanfaatkan sisa pangkal batang seledri yang biasanya dibuang setelah panen atau konsumsi. Cara ini sangat ekonomis dan cocok untuk skala rumahan. Pilih pangkal batang seledri yang masih segar dengan panjang sekitar 5-7 cm dari bagian bawah. Pastikan masih ada titik tumbuh di bagian tengah pangkal batang.

Siapkan wadah dangkal seperti mangkuk atau nampan, isi dengan air bersih setinggi 2-3 cm. Letakkan pangkal batang seledri dalam wadah dengan posisi tegak, pastikan bagian bawah terendam air namun titik tumbuh tidak terendam. Ganti air setiap 1-2 hari sekali untuk menjaga kebersihan dan mencegah pembusukan.

Dalam 5-7 hari, akan muncul tunas baru dari bagian tengah pangkal batang dan akar-akar putih dari bagian bawah. Setelah akar tumbuh sepanjang 2-3 cm dan tunas mulai berkembang, pindahkan ke media tanam berupa tanah dalam pot atau polybag. Tanam pangkal batang hingga sebagian terendam media tanam, sisakan bagian tunas di atas permukaan. Siram secara teratur dan letakkan di tempat yang mendapat cahaya cukup. Tanaman akan tumbuh dan dapat dipanen setelah 30-45 hari.

Menanam Seledri dari Akar

Perbanyakan dari akar dilakukan dengan cara memisahkan anakan yang tumbuh dari rumpun seledri dewasa. Metode ini cocok untuk seledri yang sudah berusia tua dan membentuk beberapa anakan di sekitar tanaman induk. Pilih tanaman seledri yang sehat dan produktif sebagai sumber anakan.

Gali tanaman induk dengan hati-hati agar akar tidak rusak. Bersihkan akar dari tanah yang menempel, lalu identifikasi anakan yang sudah memiliki akar sendiri. Pisahkan anakan dari tanaman induk dengan cara memotong menggunakan pisau tajam yang sudah disterilkan. Pastikan setiap anakan memiliki akar yang cukup dan beberapa daun.

Tanam anakan segera setelah dipisahkan ke dalam media tanam yang sudah disiapkan. Buat lubang tanam sedalam sistem perakaran anakan, masukkan anakan, lalu timbun dengan media tanam hingga pangkal batang. Padatkan media di sekitar tanaman dan siram hingga lembab. Letakkan di tempat teduh selama 3-5 hari pertama untuk mengurangi stres, kemudian pindahkan ke tempat yang lebih terang. Tanaman akan pulih dan tumbuh aktif dalam 1-2 minggu, siap dipanen setelah 45-60 hari.

7. FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan) (c) Ilustrasi AI

1. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk panen seledri?

Waktu panen seledri bervariasi tergantung metode budidaya yang digunakan. Untuk sistem hidroponik, seledri dapat dipanen dalam 60-75 hari setelah tanam. Penanaman di pot atau polybag memerlukan waktu 70-90 hari, sementara di lahan terbuka berkisar 70-90 hari. Jika menanam dari batang sisa, panen pertama dapat dilakukan lebih cepat, sekitar 30-45 hari setelah tunas baru muncul.

2. Apakah seledri bisa ditanam di dataran rendah?

Ya, seledri dapat ditanam di dataran rendah meskipun idealnya tumbuh di dataran tinggi dengan suhu sejuk. Untuk budidaya di dataran rendah, perhatikan beberapa hal seperti memberikan naungan parsial untuk mengurangi intensitas sinar matahari langsung, menjaga kelembaban media tanam dengan penyiraman yang lebih sering, dan memilih varietas seledri yang lebih toleran terhadap suhu panas. Perawatan ekstra diperlukan untuk mendapatkan hasil yang optimal.

3. Media tanam apa yang paling baik untuk seledri hidroponik?

Media tanam terbaik untuk seledri hidroponik adalah rockwool karena memiliki daya serap air yang sangat baik, dapat menopang tanaman dengan stabil, dan bersih dari patogen. Alternatif lain yang juga baik adalah cocopeat atau sabut kelapa yang ramah lingkungan dan memiliki kemampuan menahan air yang baik, serta arang sekam yang memberikan aerasi optimal untuk akar. Kombinasi cocopeat dan arang sekam dengan perbandingan 1:1 juga sering digunakan dengan hasil yang memuaskan.

4. Bagaimana cara mengatasi daun seledri yang menguning?

Daun seledri yang menguning dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Kekurangan nitrogen adalah penyebab paling umum, yang dapat diatasi dengan memberikan pupuk yang kaya nitrogen seperti urea atau pupuk NPK dengan kandungan N tinggi. Penyiraman yang berlebihan atau kurang juga bisa menyebabkan daun menguning, pastikan media tanam lembab namun tidak tergenang. Serangan penyakit seperti bercak daun atau busuk akar juga dapat menyebabkan gejala ini, segera aplikasikan fungisida organik dan perbaiki drainase media tanam.

5. Apakah seledri bisa dipanen berkali-kali?

Ya, seledri dapat dipanen berkali-kali dengan teknik panen yang tepat. Gunakan metode panen potong dimana hanya batang bagian luar yang dipotong, sementara bagian tengah atau titik tumbuh dibiarkan untuk menghasilkan tunas baru. Potong batang sekitar 2-3 cm di atas pangkal akar menggunakan pisau tajam yang bersih. Setelah panen pertama, berikan pupuk tambahan dan jaga kelembaban media tanam. Tunas baru akan muncul dalam 2-3 minggu dan dapat dipanen kembali. Metode ini memungkinkan 3-4 kali panen dari satu tanaman.

6. Hama apa saja yang sering menyerang tanaman seledri?

Hama yang paling sering menyerang seledri adalah kutu daun yang menghisap cairan daun dan menyebabkan daun keriting serta pertumbuhan terhambat. Ulat daun juga sering ditemukan memakan daun seledri hingga berlubang. Trips dapat menyebabkan daun berbercak perak dan pertumbuhan terhambat. Untuk pengendalian, gunakan pestisida organik seperti larutan sabun insektisida, minyak neem, atau ekstrak bawang putih. Aplikasikan setiap 3-5 hari sekali hingga hama terkendali. Penanaman tanaman pengusir hama seperti kemangi atau marigold di sekitar seledri juga dapat membantu mengurangi serangan.

7. Berapa pH ideal untuk menanam seledri secara hidroponik?

pH ideal untuk budidaya seledri secara hidroponik berkisar antara 6.0-6.5. Pada rentang pH ini, penyerapan nutrisi oleh akar tanaman berlangsung optimal dan tanaman dapat tumbuh dengan baik. pH yang terlalu rendah (asam) atau terlalu tinggi (basa) dapat menghambat penyerapan nutrisi tertentu dan menyebabkan defisiensi meskipun nutrisi tersedia dalam larutan. Periksa pH larutan nutrisi setiap 2-3 hari sekali menggunakan pH meter atau kertas lakmus, dan sesuaikan menggunakan pH up atau pH down jika diperlukan untuk menjaga pH tetap dalam rentang ideal.

(kpl/cmk)

Rekomendasi
Trending