Sastrawan Usulkan Televisi Gelar program 'Sastra Idol'

Kapanlagi.com - Sastrawan Viddy AD Daery mengusulkan agar pemerintah mendanai program populer di bidang sastra berupa "Sastra Idol" untuk meniru program Akademi Fantasi (AFI), Indonesian Idol atau Kontes Dandut Indonesia (KDI).

"Kalau kita menggugat rendahnya penghargaan sastra di masyarakat, sekarang kita balik. Saya akan membuat program Sastra Idol karena saya berpengalaman 13 tahun di telvisi. Apakah pemerintah punya dana untuk itu?," katanya dalam seminar internasional di Surabaya, Rabu.

Pernyataan itu disampaikan Viddy kepada Dr Dendy Sugono dari Pusat Bahasa Jakarta yang tampil dalam seminar sebagai rangkaian Pertemuan Sastrawan Nusantara (PSN) XIII 27-30 September yang diikuti peserta dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Pilipina dan Thailand.

Viddy yang juga praktisi televisi di stasiun televisi swasta di Jakarta itu bahkan menantang akan membuat proposal "Sastra Idol" sehingga keberadaan sastra dapat terangkat sebagaimana hasil karya seni populer lainnya.

Mendapat tantangan itu, Dendy tidak menjawab secara tegas. Ia hanya mengemukakan bahwa Departemen Pendidikan Nasional akan mendirikan televisi yang memiliki siaran tentang pendidikan mulai tahun 2005.

"Kami bukan meniru-niru tapi untuk kepentingan pendidikan sendiri. Kami melihat betapa sulit memasukkan program pendidikan di telvisi umum saat ini. Begitu mahalnya, untuk pesan berupa `runing teks` saja sangat mahal," katanya.

Sementara penyair asal Riau, Taufik Ikram Jamil mengusulkan agar sastrawan Indonesia kembali memanfaatkan wahana lisan untuk menyebarluaskan hasil karya sastra dan bukan hanya melalui buku yang saat ini dikeluhkan karena rendahnya minat baca masyarakat.

Mengutip pendapat Will Derks, seorang peneliti sastra dari Universitas Leiden, Belanda, Ikram mengemukakan, acara-acara pembacaan sajak dan lomba baca sajak di Indonesia ternyata banyak diminati masyarakat, sedangkan membaca buku berada pada posisi sebaliknya.

"Ternyata sastra Indonesia tidak terlepas dari kelisanan dan acara baca sajak maupun lomba baca sajak adalah suatu proses kelisanan," kata mantan wartawan harian nasional terkemuka itu.

Oleh karena itu, katanya, "penilaian" terhadap sastra Indonesia pada gilirannya tidak mungkin hanya terpaku pada teks sebagaimana banyak dilakukan di belahan dunia lain, tetapi harus memperhatikan kelisanan sebagai suatu bagian yang penting.

"Patut diakui di dalam sastra Indonesia mutakhir, usaha pelisanan karya sastra telah dilakukan, baik oleh sastrawannya sendiri maupun oleh orang lain. WS Rendra pernah merekam suaranya dalam bentuk kaset, Taufiq Ismail membuat sejumlah lirik dengan sentuhan lebih kental pada sastra untuk lagu sebuah grup band," katanya.

Sementara almarhum Hamid Jabbar, katanya, semasa hidupnya dikenal sebagai penyair yang selalu mendendangkan sajak-sajaknya. "Tetapi terkesan bahwa pendendangan itu hanyalah sebagai tempelan sesaat, bukan sebagai suatu keharusan," katanya. Pembicara lain yang tampil dalam sesi seminar itu adalah pakar budaya tradisional asal Universitas Jember Dr Ayu Sutarto dan Dra Sri Widati dari Pusat Bahasa Yogyakarta.

(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)

(*/dar)

Rekomendasi
Trending