Tayangan Televisi Semakin Dipenuhi Kekerasan
Kapanlagi.com - Televisi sebagai sarana efektif untuk mendidik masyarakat semakin dipenuhi tayangan berbau pornografi, mistis dan kekerasan yang dikhawatirkan menjadi cerminan masyarakat Indonesia saat ini.Salah satu dampaknya, menurut Kepala Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, DR Deny Sugono, minat mahasiswa asing untuk mempelajari budaya dan bahasa Indonesia di Indonesia menurun."Minat mahasiswa asing mempelajari budaya dan bahasa Indonesia termasuk masalah politik, ekonomi dan sosial sebenarnya stabil namun mereka merasa takut jika harus mengunjungi Indonesia karena melihat seringnya tayangan yang menampilkan kekerasan di beberapa stasiun televisi di Indonesia, " kata Dendy.Ketua Bagian Anak dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof. Dr. Zakiah Darajat mengatakan, televisi seharusnya ikut membantu para orang tua dan guru mendidik generasi muda Indonesia agar menjadi lebih baik."Caranya, stasiun televisi tidak menyajikan tayangan yang merusak khususnya anak-anak karena mereka lebih suka mencontoh adegan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moral, supaya hari depan anak-anak kita menjadi lebih baik," kata Zakiah di Mesjid Istiqlal, Jakarta, Senin, sehubungan dengan HUT sejumlah stasiun televisi di Indonesia, bulan ini.Tayangan berbau pornografi, mistis maupun kekerasan terkadang dianggap sebagai bagian dari kreativitas berseni.Namun menurut Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin, pada umumnya orang bilang seni itu untuk seni atau seni untuk kreatifitas."Tapi bagi kalangan umat beragama atau agamawan, seni bukan sekadar seni melainkan untuk ibadah atau pengabdian kepada Tuhan," kata Din di Mesjid Istiqlal, Jakarta, Senin.Ia juga mengingatkan perlunya kearifan supaya tidak terjadi benturan antara budaya pop dan agamawan, dengan duduk bersama berdialog menyamakan visi. Kebebasan, tidak seharusnya diterjemahkan sebagai kebebasan tidak terbatas, melainkan terkait dengan hak orang lain.Membangun Dengan Moral Sementara itu mencari persamaan persepsi tentang nilai seni, Majelis Ulama Indonesia (MUI), sejumlah ormas Islam, pemuka agama mengadakan dialog dengan pihak PT Multivision Plus (MVP) untuk di Mesjid Istiqlal, Jakarta, Senin.Hasilnya, disepakati untuk membangun bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik tanpa meninggalkan nilai moral.Pihak majelis agama khususnya MUI dalam pertemuan tersebut dengan tegas menyatakan prihatin terhadap tayangan televisi maupun film yang mengandung aksi pornografi, mistis maupun tindak kekerasan.Menteri Negara Komunikasi dan Informasi, Syamsul Muarif, juga mengkritik sejumlah acara di media massa yang memuat tulisan maupun gambar porno.Namun ia mengakui pemerintah tidak bisa leluasa menghentikan tayangan berbau pornografi karena keterbatasan gerak yang digariskan UU No 40 tahun 1999 tentang Pers. Salah satu isinya, siapapun dilarang mencampuri materi tayangan atau siaran media massa.Hari Televisi Jadikan Renungan Hari televisi, yang diperingati pada 24 Agustus, harus menjadi hari perenungan bagi bagi industri televisi itu sendiri untuk menentukan kepentingan apa yang akan dikandungnya di masa yang akan datang.Dosen Pasca Sarjana Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Junaidi MA. di Depok, Senin, mengatakan, saat ini kepentingan bisnis telah mengalahkan kepentingan kesejahteraan publik sehingga yang terjadi ialah proses dehumanisasi publik melalui tayangan televisi.Ia mencontohkan sejumlah tayangan misteri yang menguasai tayangan di beberapa televisi swasta hanya karena tayangan tersebut memberi keuntungan ekonomis.Junaidi mengisyaratkan pentingnya keseimbangan dalam tayangan televisi terutama antara kepentingan ekonomis dan kepentingan edukatif masyarakat.Deputi Direktur Hubungan Internasional UI ini juga mencemaskan perkembangan tayangan televisi saat-saat ini.Ia mencontohkan film kartun Shinchan yang digemari oleh sebagian besar anak, seharusnya diperuntukkan bagi orang dewasa tetapi malah menjadi tontonan wajib anak-anak."Akibat yang ditimbulkan oleh kondisi ini ialah masyarakat menganggap suatu budaya menjadi sesuatu yang wajar padahal sebenarnya budaya tersebut salah, " kata Junaidi.Â
(Setelah 8 tahun menikah, Raisa dan Hamish Daud resmi cerai.)
(*/dar)
Advertisement
-
Teen - Fashion Kasual Celana Jeans Ala Anak Skena: Pilihan Straight sampai Baggy yang Wajib Dicoba
